Kisah Tiada Akhir, Blogger Bengkulu (Bobe)

Kamis, 31 Mei 2018


Bobe. Ketika pertama kali meihat kata ini, aku terkenang postingan dua tahun lalu di timeline facebookku di mana kala itu ada pengumuman penerimaan anggota baru blogger Bengkulu (Bobe) yang akan dilaksanakan di Kota Bengkulu. Saat itu, tepat hampir satu bulan aku pulang kembali ke Bengkulu setelah merantau menempuh pendidikan selama 2,5 tahun di Kota Gudeg. Wah, tentu saja aku antusias melihat pengumuman ini, karena jujur saja aku rindu berkegiatan di komunitas. Hal ini dikarenakan, semenjak aku kembali ke Bengkulu, kegiatanku sehari-hari hanyalah mengajar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Kota Bengkulu. 

Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung menghubungi narahubung yang tertera di poster tersebut. Baiklah, setelah resmi mendaftar, aku tinggal menunggu waktu pertemuan itu, yakni hari Minggu tanggal 25 September 2016. Tentunya aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan orang-orang yang berada di komunitas tersebut. Karena menurutku, orang-orang yang memiliki hobi menulis itu adalah orang-orang hebat, orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Terlebih ketika hal yang ditulis adalah hal yang bermanfaat  bagi orang banyak.
...............
Hari yang dinanti pun tiba. Hari itu cuaca mendung, gerimis, kurang bersahabat memang. Sementara hari itu aku harus menggunakan sepeda motor untuk dapat sampai ke tempat pertemuan Blogger Bengkulu yang beralamatkan di toko Adiguna, Kampung Bali. Cukup jauh memang perjalanan yang harus aku tempuh, bayangkan saja, jarak antara Timur Indah hingga Kampung Bali (tempat lokasi toko Adiguna) seberapa jauhnya, mana harus ditempuh dalam kondisi hujan gerimis pula. Tetapi, itu bukan masalah, walau harus melawan kondisi jalanan licin, namun alhamdulillah, aku bisa sampai tempat tujuan dengan selamat.
Untungnya, pada saat aku datang, acara belum lama dimulai. Saat itu, Mbk Milda (Selaku ketua Bobe) baru saja memberikan sambutan. Mbk Milda menjelaskan bahwa menjadi seorang blogger itu adalah kegiatan yang mengasyikkan. Apalagi saat itu, kami semua diperkenalkan dengan salah satu blogger yang sudah cukup senior, di mana perjalanan menulisnya sangat menginspirasi kami semua.
Acara dilanjutkan dengan mengenalkan bagaimana membuat blog, membuat postingan tulisan di blog yang baik dan masih banyak lagi. Kali itu, kami langsung diperintahkan untuk membuat postingan tulisan tentang kegiatan yang berlangsung hari itu, dan tentunya  tulisan tersebut harus selesai pada saat itu juga. Waah, alhasil, tulisanku berisi semacam laporan kegiatan dan sedikit curhatan tentang diriku yang agak merasa bosan setelah kembali lagi ke Bengkulu karena kekurangan kegiatan, hehe.
Dan walhasil, hari itu adalah hari pertama aku resmi menjadi anggota Bobe (Blogger Bengkulu). Hmmm, walau jujur saja, setelah itu aku kurang aktif berkumpul kembali dalam pertemuan-pertemuan Bobe dan cukup vakum menulis. Hal ini dikarenakan bisa jadi karena aku kurang menyeriusi kegiatan blogger dan sudah mulai banyak jam mengajar yang jujur saja cukup menyita waktu. Ya.. sedikit cerita ya, di semester dua dalam periode mengajarku, saat itu aku dipercaya mengampu 10 mata kuliah. Yang di mana pengalaman paling amazing adalah saat ditugaskan di Lebong, yang jaraknya cukup jauh dari Kota Bengkulu. Saat mengajar di Lebong, aku pernah jam 9.30 malam masih di travel dalam perjalanan pulang Lebong-Bengkulu, sementara keesokan harinya aku harus mengajar di salah satu kelasku pukul 08.00! (eheem banget deh pokoknya!).
Memang sih, kalau kata Mbk Asma Nadia, salah satu penulis senior, bahwa urusan menulis itu no excuse, atau dalam artian tidak ada alasan loh untuk nggak nulis. Tapi ya namanya aku, tetap aja gitu-gitu aja, masih sering terbawa-bawa moody, nulis gak ya? Nulis gak ya? (mohon jangan ditiru ya!). Seharusnya nih ya, walau jadwal mengajar padat, sudah seharusnya aku harus meluangkan waktuku untuk tetap memposting tulisan-tulisanku di blog.
..................................
Tahun pun berganti, aku perhatikan Bobe sudah semakin maju, anggotanya semakin banyak. Aku jarang bergabung ke acara kopdar (pelatihan) Bobe bukan karena tidak mau, melainkan acara Bobe selalu saja bertepatan dengan waktu aku mengajar di UT (ya kalau tidak Sabtu, ya Minggu). Aku hanya bisa mengintip keseruan acara Bobe melalui akun instagran atau pun postingan-postingan kegiatan Bobe di facebook.
Walaupun jarang kopdar dengan anggota Bobe lainnya, aku sering loh menceritakan tentang Bobe dan asyiknya meulis lewat blog kepada mahasiswa-mahasiswaku. Mereka cukup antusias mendengarkan dan sering bertanya, “Bu, bagaimana agar bisa ngeblog juga?”. Aku pun menjawab sejelas mungkin pertanyaan mereka. Intinya aku katakan, “daripada nyetatus terus di timeline, lebih baik nulis yang bermanfaat di blog. Selain bermanfaat siapa tahu bisa jadi pendapatan.”
Nah, atas dasar banyaknya pertanyaan mahasiswa inilah, aku pun berinisiatif ingin mengadakan semacam kuliah umum tentang blogger. Intinya, aku ingin mengenalkan aktivitas blogger kepada para mahasiswa. Agar mereka bisa kritis secara baik, tidak asal-asalan dan lebih beretika. Kebetulan, saat itu aku dipercaya menjadi salah satu pembina mahasiswa Hima di salah satu Universitas di tempatku mengajar, aku pun memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini kepada Ketua Prodi. Singkat cerita, Kaprodi setuju dengan ideku. Hal yang sempat diragukan Kaprodi adalah, apakah event ini akan benar-benar terlaksana? Mengingat waktu itu adalah H-14 acara pernikahanku. Aku memberanikan diri untuk berpositif thinking saja, karena apapun itu, jika niatnya baik, insyaAllah akan baik juga.
Salah satu souvenir
untuk pemateri Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future

Berpose bersama Panitia Kuliah Umum
Smart Blogger for Better Future
Dan alhamdulillah, walaupun persiapan acara kurang dari satu bulan dan proposal baru disetujui H-3, namun sesuai dengan niatku acara itu berlangsung sukses dan meriah, dihadiri lebih dari 150 peserta dari kalangan mahasiswa yang ada di berbagai universitas di Kota Bengkulu. Aku selaku ketua panitia saat itu cukup bersyukur, karena di akhir masa-masaku menjadi dosen di Universitas tersebut (karena usai menikah aku resign dan mengikuti suami hijrah ke luar Bengkulu), aku bisa berbagi dengan yang lain tentang apa sebenarnya blogger itu. 
Ramainya peserta Kuliah Umum Bersama Bobe
Smart Blogger For Better Future

Tentunya, saat itu aku mengajak para pengurus Bobe untuk menjadi pengisi acara di event dengan tema, ‘Smart Blogger for Better Future’. Di mana pemateri saat itu adalah para Blogger-blogger kece dari Bobe, yakni Mbk Milda, Mbk Ria Fasha dan Kak Pieter Julius. Para pengisi acara begitu semangat memberikan motivasi kepada para mahasiswa, agar nantinya dapat menjadi seorang blogger yang aktif dan bermanfaat.


Bersama para admin Bobe di acara Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future
di kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu

http://www.bloggerbengkulu.com/

Demikianlah sedikit ceritaku selama menjadi blogger di Kota Bengkulu. Sebenarnya masih banyak kisah menarik dan seru yang ingin aku ceritakan, tetapi kali ini cukup sekian dulu ya. Intinya kalau bercerita tentang Bobe, tentu tidak akan ada habisnya. Akhir kata, aku ingin berpesan, semoga kita kian semangat menebar kebaikan melalui tulisan-tulisan yang kita bagikan. Salam.

Menanggapi Perbedaan

Senin, 28 Mei 2018
Photo by Google

Dalam menjalani kehidupan ini sudah pasti kita akan menemui beragam perbedaan, baik perbedaan dalam keyakinan, cara pandang maupun perbedaan dalam menjalani kehidupan. Tentunya dalam hal ini, kita perlu mawas diri, bahwa setiap perbedaan yang ada adalah sunnatullah dari Allah SWT yang akan terus ada hingga akhir hayat ini.

Beberapa perbedaan tersebut tentunya akan membawa warna-warna dalam kehidupan. Ada kalanya, orang banyak yang berkeluh kesah, mengeluh bahkan cenderung tidak menerima dengan adanya perbedaan tersebut. Tak ayal banyak terjadi perdebatan berkepanjangan, saling menyalahkan bahkan terjadi penghakiman yang cenderung tidak adil atas cara pandang memandang perbedaan yang ada.

Adanya ketidakseimbangan dalam menghadapi perbedaan inilah yang perlu kita hindari. Hal ini dilakukan agar kehidupan kita akan tetap seimbang, baik secara jasmani maupun rohani. Agar tidak ada perpecahan yang kemudian menimbulkan stigma-stigma negatif di dalam kehidupan.

Jika berkaca pada kehidupan era saat ini, kemunculan stigma negatif akan suatu hal dapat sangat kentara terlihat. Bayangkan saja, setiap hal kian transparan terlihat, di mana era saat ini kita kenal degan era digitalisasi, di mana kita bisa menilai seseorang dengan hanya mengikuti setiap timeline yang ada di media sosialnya. Kita juga bisa menilai, bagaimana individu tersebut menanggapi setiap perbedaan yang ada, dengan hanya melihat aktivitas yang sering dilakukannya dengan fasilitas-fasilitas dunia maya yang tersedia. Toh, secara tidak langsung kita dapat belajar secara bijak, jikalau apa yang ditanggapi tersebut memuat pesan positif, kita dapat mendapatkan suatu hal yang membawa kita pada pola pikir yang positif. Lalu bagaimana jika yang kita dapatkan itu justru sebaliknya? Acapkali kita senantiasa membaca timeline yang tentunya selalu membawa kita pada pikiran yang negatif, alih-alih ingin bertenggang rasa dengan perbedaan yang ada, justru kita malah semakin setuju akan penciptaan negatif pada suatu kelompok atau suatu hal yang menurut kita kurang sesuai. Dalam hal ini, tentunya kita dapat menciptakan suatu bentuk gatekeeper tersendiri pada diri kita. Di mana kita dapat menjadikan stimulus-stimulus di dalam otak kita untuk tidak serta merta mengikuti dan menyetujui stigma negatif tersebut.
                Lalu, bagaimana cara menanggapi perbedaan yang ada? Baiklah saya akan mencoba sharing tentang pengalaman saya dalam menanggapi perbedaan yang selama ini saya alami.

1.       Selalu berpikir positif atas perbedaan yang ada
Para pakar ahli kesehatan dan ahli psikologi, selalu saja menyampaikan pesan kepada para pasien atau kliennya agar selalu memiliki pikiran yang positif akan beragam hal yang ada. Oleh karenanya, jika kita menghadapi sebuah perbedaan dalam kehidupan, kita pun harus berpikiran positif. Lalu, bagaimana jika ada individu atau sekelompok orang yang senantiasa memaksakan pendapatnya agar kita mau mengikuti pendapat atau saran mereka tersebut. Nah, lagi-lagi kita harus tetap mawas diri dan menjadi gatekeeper bagi diri kita sendiri. Jika menurut kita kurang sesuai saran atau pendapat tersebut, kita bisa menyampaikan penolakan secara baik-bai, dengan tetap menggunakan kalimat yang santun. Tidak perlu kita justru saling beradu pendapat, berdebat kusir, sehingga menjadikan suasana semakin terlihat absurd dan kacau. Tidak perlu merasa yang paling benar dan banyak ilmu. Karena seorang pribadi yang baik adalah seseorang yang mampu menahan dirinya ketika tersulut perdebatan. Atas dasar inilah, kita seharusnya juga dapat mengambil suatu pembelajaran, bahwa kita tidak boleh memaksakan apa yang kita pahami dan pikirkan kepada orang lain, sekali pun itu keluarga dekat kita.

2.       Pelajari terlebih dahulu hal yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.
Saya pernah berada dalam kondisi pertemanan yang begitu berbeda dalam memandang kehidupan, khususnya dalam menanggapi perbedaan cara pandang menjalankan perintah agama. Terkadang mereka seringkali ekstrim dalam menanggapi perbedaan tersebut. Tentu saja saya yang notabene kurang menerima pendapat mereka tersebut sempat ‘merasa panas’ dan rasanya ingin segera pergi dari pertemanan tersebut. Namun hati kecil saya selalu berkata, ‘Untuk apa pergi dari mereka? Toh mereka adalah saudaramu, mereka adalah partner hidupmu’. Oleh karenaya, untuk saat itu dan hingga saat ini, saya akan berusaha diam jika mereka berpendapat ekstrim akan suatu hal, khususnya dalam hal menjalankan perintah agama. Jikalau mereka berpendapat di depan saya langsung, maka saya akan menjawab, ‘tolong jangan bahas tentang bagaimana cara seseorang menjalankan agama, karena itu sensitif, ada baiknya kita membahas yang lain.’ Jikalau sudah seperti itu jawaban saya, biasanya mereka mereda sendiri dan kami kembali berdiskusi hal lain yang lebih luwes untuk didiskusikan. Dan hingga saat ini, hubungan pertemanan kami masih sangat baik.
Tentunya saya memaklumi juga apa yang seringkali mereka lontarkan, hal ini dikarenakan saya juga cukup tahu mereka berasal dari latar belakang keluarga dan budaya yang bagaimana, sehingga secara tidak langsung akan memengaruhi pola pikir mereka akan sesuatu.

3.       Perbanyaklah pergaulan dengan siapa pun.
Jika kita memiliki banyak teman dan cenderung tidak menutup diri, maka kita akan dapat mempelajari beragam karakter yang dimiliki oleh orang lain. Tentu saja bukan hanya karakter, tetapi kita juga bisa memahami budaya dan cara pandang mereka. Pengalaman saya, saya pernah ditemukan dengan dua orang dokter spesialis perempuan yang memiliki karakter yang cenderung membuat saya terkaget-kaget dengan cara mereka menghadapi pasien. Dokter pertama cenderung tidak mau banyak ditanya akan sesuatu hal yang mendetail. Justru dokter tersebut menyatakan bahwa saya yang harus lebih banyak membaca dan mencari informasi jika ingin lebih banyak tahu. Sontak saya kaget dan kesal. Namun, ketika saya pikir-pikir ulang ya mungkin memang sudah karakter Dokter ini seperti ini. Sementara Dokter yang kedua, cenderung menggunakan bahasa sapaaan ‘Loe-gue-loe gue’ dan cenderung blak-blak’an dan kekeuh mempertahankan pendapatnya. Sementara saya pun sebenarnya kekeuh juga menyampaikan riwayat kesehatan saya. Jadi terdapat kesalahan informasi di lembar pendaftaran tentang riwayat kesehatan saya, sementara sang Dokter kekeuh mempertahankan catatan tersebut. Hingga akhirnya, di akhir diskusi kami, kesimpulan yang diambil adalah pendapat saya. Tentunya saya kaget juga diperlakukan seperti itu oleh seorang Dokter, namun lagi-lagi saya berkata dalam hati, mungkin memang sudah karakter dan pembawaannya seperti itu. Toh Dokter ini lebih mendetail walau sedikit blak-blakan. Dan tentunya, ketika kita telah memiliki banyak pergaulan, kita cenderung lebih mudah memaafkan beragam perbedaan yang ada.

4.       Selalu Ada Hikmah dalam Perbedaan
Apapun yang ada dan terjadi adalah Qadarullah (ketetapan Allah). Semua yang kita lalui adalah suatu hal yang sudah ditetapkan dan ada hikmah yang dapat dipetik dari sana. Adanya beragam polemik yang kita lihat terjadi di negeri ini, yang tentunya salah satu penyebab kehadirannya karena adanya perbedaan, juga pasti terjadi karena memang sudah menjadi qadarullah. Nah, tugas kita adalah tetap menjadi bijak dalam menanggapi setiap hal yang ada. Jangan justru turut memperkeruh suasana dengan melemparkan pendapat-pendapat negatif atas terjadinya suatu polemik. Ada baiknya kita melakukan tugas kita dengan baik dan menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Akan lebih baik lagi jika kita mampu memberikan solusi dan berperan aktif untuk menyelesaikan polemik tersebut.

Perbedaan, tentunya menjadi suatu hal yang indah jika kita mampu menyikapinya dengan baik. Bijak dalam menjalankan peran, bijak dalam menghadapi setiap hal yang ada. Lalu, untuk apa mengeluhkan perbedaan yang ada? Untuk apa merasa tidak suka dengan adanya perbedaan? Okey... mulai sekarang positiflah dalam menanggapi perbedaan yang ada. 😊😊😊





Berkenalan lebih dekat dengan Osteoporosis

Kamis, 17 Mei 2018

Photo by Google
‘Osteoporosis’, apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata tersebut? Ya, tentunya osteoporosis sangat berhubungan dengan tulang tentunya. Di awal ramadhan 1439 H, selain wajib menambah aktivitas ibadah harian, kita juga wajib menjaga asupan makanan yang kita konsumsi. Salah satunya adalah kalsium. Mengapa kasium penting? Ya tentu saja, jika asupan kalsium di dalam tubuh cukup, maka tulang akan menjadi kuat dan beribadah pun akan menjadi kian bersemangat dan tanpa kendala.

Saya dan Osteoporosis.
Saat masih menggunakan kruk di tahun 2015.
Sebelum melangkah lebih jauh membahas mengenai osteoporosis, saya akan menceritakan tentang kondisi saya beberapa tahun yang lalu (lebih tepatnya dua tahun lalu). Saya adalah seorang penderita osteoporosis di usia muda. Hal ini terdeteksi setelah saya mengalami kecelakaan motor yang cukup parah, yang mengharuskan saya menjalani operasi fraktur femur (patah tulang paha kanan). Ternyata, kondisi saya saat itu bukan hanya patah tulang biasa, melainkan tulang paha saya hancur berkeping, hal ini diakibatkan benturan sepeda motor yang cukup keras dan kondisi tulang saya yang rapuh. Sejak saat itu, saya melewati beberapa pengobatan tulang yang tentunya berlangsung lama. Jika orang lain bisa pulih dan berjalan normal, hanya dalam hitungan 6 bulan atau paling lama satu tahun, saya justru baru bisa berjalan normal setelah 1,5 tahun (namun dengan catatan, hingga hari ini saya tidak bisa lagi berlari seperti sedia kala).
Saya pernah didiagosis untuk operasi ulang, setelah menjalani 8 bulan pascaoperasi awal. Hal ini dikarenakan kondisi tulang saya yang tidak ada perkembangan signifikan. Oleh karenanya, saat itu, Dokter-Dokter residen yang ada di Rs. Sardjito (Yogyakarta), berkesimpulan untuk mengoperasi ulang tulang paha saya dan saya harus mengulang terapi pengobatan sejak awal. Saya tidak bisa membayangkan hal itu terulang kembali, karena pascaoperasi, saya sangat bergantung pada orang lain dan gerakan tubuh saya amat terbatas. Sungguh membosankan dan acapkali membuat stres, jika harus membayangkan hal tersebut terulang kembali. Oleh karenanya saya pernah berujar pada para dokter residen tersebut, “Dok, jika saya dioperasi kembali, apakah saya harus menjalani cuti kuliah kembali? Lalu bagaimana dengan tesis saya? Kapan selesainya?,” saya bertanya dengan kondisi yang cukup bingung saat itu. Salah satu perwakilan dari residen tersebut menjawab, “Sampeyan mau sembuh kaki atau mau memikirkan kuliah? Kalau itu sih terserah sampeyan, cuma saran kita lebih baik dioperasi kembali, nanti kami akan menanamkan semacam serbuk ke tulang Anda, di mana serbuk tersebut fungsinya untuk mempercepat tumbuhnya kalus pada tulang Anda.” Sontak saya kaget dan agak marah mendengar pernyataan salah satu residen tersebut, dengan beraninya, saya menjawab,”Oke baiklah Dok, mungkin saya akan tetap memilih melanjutkan kuliah dan mengerjakan tesis, untuk urusan kaki ini, toh ada keajaiban tentunya, permisi dan terima kasih.”
Menurut saya, jawaban dokter-dokter residen tersebut bukanlah solusi. Toh, mereka masih residen di RumaH Sakit ini, belumlah menjadi Dokter spesialis Orthopedi yang sesungguhnya. Mereka masih berstatus menempuh pendidikan spesialis orthopedi. Berani-beraninya mengambil kesimpulan seperti itu. Usai hari itu, masih dengan menggunakan dua tongkat kruk, saya pun meminta teman saya untuk mengantarkan saya ke Rumah Sakit Panti Rapih (sebuah RS.Swasta, yang letaknya tidak jauh dari RS.Sardjito). Di sana saya dipertemukan dengan dokter spesialis orthopedi yang cukup melegakan, di mana saya tidak perlu dioperasi kembali, jika kondisi tulang saya membaik dalam jangka waktu tiga bulan, dengan catatan saya wajib mengkonsumsi obat yang diperuntukkan bagi orang tua yang terkena osteoporosis. Sejak saat saat itulah saya menyadari, bahwa saya adalah penderita osteoporosis di usia muda.
Namun, syukur alhamdulillah, sekitar 1,5 tahun pascaoperasi awal, saya sudah bisa berjalan seperti biasa kembali. Saya pun bisa menyelesaikan studi saya, tanpa kembali melakukan operasi kembali. Dan tentunya, untuk urusan tidak bisa berlari kembali, saya maklumi, karena segala sesuatu yang Allah berikan pada kita, terdapat masanya, di mana, setiap hal akan dikembalikan pada Allah. Kita hanya sebatas dititipkan saja.

Mengapa terkena osteoporosis?
Secara pribadi, saya memang orang yang jarang olah raga, tidak suka mengkonsumsi susu, dan memiliki garis keturunan osteoporosis dari garis keturunan Nenek. Nah, beberapa hal tersebut adalah pemicu hadirnya osteoporosis.
Mengutip pernyataan Prof.Dr.Errol Untung Hutagalung, SpB, SpOT-K dalam buku Osteoporosis di Usia Muda, osteoporosis merupakan suatu penyakit pada tulang yang ditandai dengan kondisi di mana terjadi penurunan massa tulang dan perubahan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi tipis, rapuh, keropos, dan mudah patah.
Berdasarkan pernyataan Prof.Erol, maka kondisi orang-orang yang terkena osteoporosis, tentunya tidak akan mampu untuk beraktivitas secara bebas dan normal kembali seperti sedia kala. Hal ini dikarenakan kondisi tulang yang mengalami penurunan massa, sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh, keropos serta mudah patah. Hal ini dapat dipastikan juga akan menimbulkan nyeri pada bagian tulang sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.
Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, mengenai faktor yang menyebabkan terkenanya osteoporosis, maka hal lain yang dapat memicu terjadinya osteoporosis adalah mengkonsumsi kafein secara berlebihan, seperti konsumsi teh dan kopi secara berlebihan, mengkonsumsi MSG dan makanan dengan kadar garam tinggi secara berlebihan juga mampu menjadikan tubuh mengeluarkan kalsium secara berlebih. Padahal, kalsium amat dibutuhkan bagi kesehatan tulang.
Diet yang terlalu ketat juga mampu menjadikan faktor terkenanya osteoporosis di usia muda. Karena diet berlebihan, tentunya asupan gizi di dalam tubuh pun menjadi berkurang termasuk kalsium. Selain itu, merokokk juga menjadi salah satu pemicu hadirnya osteoporosis.

Tips agar terhindar dari osteoporosis
1                 1.      Jika Anda merokok, maka berusahalah untuk berhenti merokok dari sekarang.
2.  Perbanyak mengkonsumsi kalsium, khususnya yang berasal dari susu, sayur-sayuran berwarna hijau pekat dan kacang-kacangan. (jika perlu, ada baiknya mengkonsumsi suplemen kalsium).
3.      Kurangi mengkonsumsi kafein serta MSG.
4.    Jangan remehkan cahaya matahari pagi, berusalah untuk berjemur saat pagi hari, dibarengi dengan berolahraga akan lebih baik.
5.  Khusus bagi wanita, perhatikan gizi anak sejak dalam kandungan, terkhusus penuhi kebutuhan kalsium anak sejak dalam masa kehamilan.
6.    Hindari gaya hidup tak sehat, misal terlalu banyak konsumsi kafein, merokok dan meminum alkohol.
7.     Hindari diet secara berlebihan.
8.     Lakukan aktivitas fisik secara berkala (jangan malas bergerak!), biasakan berjalan kaki.
9.     Lakukan pemeriksaan kesehatan tulang sejak dini. 
Photo by Google
Okey, sehat itu memang butuh usaha ya... Jangan sepelekan urusan kesehatan tulang, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga artikel dan sharing ini bermanfaat Ada baiknya, kita menjaga kesehatan tulang sedini mungkin.

Ayo, mulai hidup sehat sejak saat ini. Ramadhan berkah dengan tulang yang sehat dan kuat!
                                                                       
*Beberapa hal tentang osteoporosis dalam artikel di atas, 
dirangkum dari buku ‘Osteoporosis di Usia Muda dari Holistic Health Solution terbitan Grasindo tahun 2011.



Perjalanan Ke Pulau K

Senin, 23 April 2018


                “Pulau K”, ayoo tebak, kira-kira pulau apa di Indonesia yang berbentuk pulau K? Nah.. Iya benar, bagi yang menjawab pulau Sulawesi, pasti nilai untuk mata pelajaran geografinya dulu saat sekolah, excellent, hehe...
            Oh iya, ini adalah perjalanan kali pertamaku ke Pulau K. Dulu, saat masih melajang, aku memang punya impian ingin punya calon suami yang bukan dari pulau Sumatera, atau pun dari Pulau Jawa. Mengapa? Ya, karena Bapak/Ibu ku sudah berasal dari dua pulau tersebut. Sehingga, untuk menambah kebhinekaan keluarga kami, maka, kalau bisa, aku menginginkan orang dari selain dua pulau tersebut untuk kemudian menjadi jodohku. And then.... qadarullah ya... benar-benar terkabullah doaku itu. Akhir tahun 2017, aku benar-benar dilamar oleh salah satu orang yang berasal dari pulau K, asli pulau K malah... Doi berasal dari Kabupaten Raha (Muna Barat), Kendari (Sulawesi Tenggara). Nah, poin pentingnya nih ya, jangan pernah pesimis akan doa, karena sesungguhnya, doa-doamu itu didengarkan oleh Allah. Dan berhati-hati jugalah ketika berujar, karena bisa jadi kenyataan loh..
            Okey, balik lagi ke pulau K ya. Btw, karena tanggal 30 Maret 2018 kemarin adalah almanak merah, maka aku bersama suami bersepakat untuk mengunjungi keluarga kami yang ada di Muna. Kebetulan, selama menikah (3 bulan), aku belum pernah bersilaturahmi ke kediaman suami di kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Walaupun almanak merahnya berada pada hari Jum’at, namun, kami bersepakat untuk memulai perjalanan kami di hari Kamis, yakni tanggal 29 Maret 2018. Dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air, kami pun berangkat dari Soetta (Tangerang) menuju ke Kendari dengan jalur transit Makassar.
            Perjalanan kami mulai dari Jakarta Barat (Palmerah), dengan mengendarai go car, kami menuju bandara Soetta sekitar pukul 07.15 WIB. Perjalanan cukup lancar, kami tidak mengalami kemacetan. Berbeda dengan jalur sebaliknya, aku melihat jalanan padat merayap, ya beginilah Jakarta, ‘berani hijrah ke Jakarta, artinya berani terima tantangan bermacet ria!’.

            Setibanya di Soetta, kami langsung check in dan kemudian menunggu keberangkatan, tepat pukul 09.50 WIB, kami telah berada di atas pesawat menuju Makassar. Perjalanan akan ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam lamanya. Jujur saja, ini adalah perjalanan dengan durasi terlama di atas pesawat. Biasanya, aku hanya berada di atas pesawat selama 1 jam saja.
            Tepat pukul 14.00 WITA, kami tiba di bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Makassar. Bandaranya cukup megah dengan desain interior yang mewah. Untuk ukuran bandara intenasional yang ada di Yogya dan Solo, bandara ini terbilang lebih maju, bahkan sangat maju dengan beragam fasilitas-fasilitas yang mewah.
Salah satu fasilitas di bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Pict. By Me

Ruang Tunggu, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Pict. By Me



Salah satu sudut di Ruang Tunggu Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pict. By Me
           
 Waktu transit kami sangatlah singkat, hanya sekitar 20 menit, karena kami harus melanjutkan kembali perjalanan ke Kendari. Dalam waktu 20 menit tersebut, aku menyempatkan membeli siomay di dalam bandara. Karena memang sudah lama ngidam siomay dan belum juga kesampaian. Begitu lihat banner makanan ada yang menjual siomay, akhirnya aku pun membeli siomay tersebut dengan IDR Rp 33.000/porsi. Harga yang cukup mahal memang untuk ukuran satu porsi siomay.

Menyempatkan diri membeli siomay di dalam bandara.
pict. by Me

            Sementara menunggu jadwal penerbangan selanjutnya, aku pun mencoba siomay yang tadi telah dibeli. Untuk rasa tidak begitu enak, tetapi lumayanlah untuk Ibu-Ibu ngidam seperti saya. Harum siomaynya memang wangi sekali, menggugah selera makan, tetapi untuk rasa, masih lebih enak siomay Mandiri yang ada di Bengkulu... :D
            Baru menikmati dua suapan pertama, aku terpaksa mengakhiri waktu makan siomay untuk sementara karena pesawat yang akan kami tumpangi sudah siap untuk dinaiki penumpang selanjutnya. Rasa-rasanya sih masih ingin melanjutkan makan, tapi apa daya, masa mau makan sambil berjalan ke atas pesawat. He...
            Tiba di atas pesawat pun, aku tidak bisa melanjutkan makan, hal ini dikarenakan aku takut mengganggu penumpang lain, dikarenakan aroma bumbu kuah siomay yang semerbak harum. So, ibu-ibu ngidam pun menahan selera untuk sementara waktu.
            Perjalanan cukup lancar, selang waktu kurang lebih satu jam, kami pun tiba di bandara Halu Uleo Kota Kendari. Bandaranya tidak terlalu besar, hampir mirip dengan bandara Fatmawati Soekarno yang ada di Bengkulu. Hanya saja, jika di bandara Fatmawati halamannya tidak terlalu luas, namun di bandara Halu Uleo halamannya cukup luas.

Bandara Halu Uleo Kendari
Pict. by Me


            Tiba di bandara, sementara suamiku mengantri barang bagasi, aku pun pergi ke luar bandara, untuk duduk di bangku bandara yang telah disediakan. Ada hal yang membuatku kurang nyaman, hal ini dikarenakan sejak pintu keluar ruang bandara, aku sudah diburu oleh orang-orang yang menawarkan jasa travel dan taxi. Mereka menawarkan “Rp100.000,- Mbk, Rp 100.000,-“, bahkan ada yang mengikutiku hingga tempat duduk. Menawarkan mau membawa baranglah, pokoknya membuat tidak nyaman. Sampai aku menyatakan bahwa aku sedang menunggu suami, baru orang tersebut pergi meninggalkanku.
            Hummm.... usai orang tersebut pergi, akhirnya aku pun melanjutkan misi yang tadi sempat tertunda, yakni makan siomay, :D :D . Siomay pun habis, Ibu-Ibu ngidam pun kenyang, Alhamdulillah. Suami pun tiba tepat pada waktunya, hhe... Dan kami pun memutuskan untuk menyewa salah satu travel yang akan membawa  kami menuju kota Kendari. Fyi nih ya, jarak antara bandara dan Kota Kendari cukup jauh, hampir memakan waktu lebih dari setengah jam.
            Tepat pukul 16.30 WITA, kami tiba di depan salah satu hotel, yakni hotel Putri Wisata. Hotel tersebut tidak jauh dari mall Lippo Kendari. Di depan hotel tersebut, telah menunggu teman suami, bang Nato namanya. Beliau memang orang asli Kendari dan tinggal di Kendari. Beliau adalah sahabat dekat suami sejak kuliah S1 dulu di Universitas Halu Uleo Kendari.
            Karena kami berdua sudah kelelahan, kami memutuskan untuk menginap dihotel Putri Wisata saja, fasilitasnya memang cukup lengkap, tetapi kamarnya kurang nyaman, karena seperti bangunan lamayang agak kurang terawat. Kami menginap di kamar VIP dua dengan IDR Rp 350,000,00/malam. Fasilitas yang didapatkan cukup baik, yakni TV, AC, WIFI, dan sarapan pagi.
            Usai berkemas, kami langsung diajak berkeliling di Kota Kendari. Kami mengawali perjalanan kami dengan mengunjungi kawasan kuliner, yakni mencicipi kuliner ikan bakar khas Kendari di Rumah Makan Kampung Bakau Kendari. Saat itu, aku dan suami memesan ikan bakar baronang. Harga ikan dihargai Rp 12.000,-/ons. Selain mencicipi ikan bakar, kami juga disuguhi sinonggi (makanan khas Kendari). 

Aneka Sambal. Salah satu menu RM.Kampung Bakau Kendari.
Pic.by Me


Sinonggi ini dilengkapi dengan paket palumara (semacam sayur bening dan ikan pindang kuah kuning yang akan menjadi campuran saat memakan sinonggi). Sinonggi sendiri semacam makanan yang terbuat dari bahan baku sagu yang kemudian disiram air panas dan diaduk-aduk hingga menyerupai lem, hampir serupa dengan Papeda di Papua. Cara memakannya pun unik. Aku diajarkan Bang Nato cara memakannya, caranya adalah mengaduk-aduk sinonggi dengan sumpit kayu, setelah cukup kental, kemudian dituangkan ke piring yang telah diberikan cabe rawit yang dihaluskan menggunakan sendok (jumlah rawit sesuai selera, saran saya jangan terlalu banyak rawitnya, karena rawit Kendari pedas banget), kemudian tuangkan ikan dan kuah pindangnya, sayur bening serta perasan jeruk nipis. Sinonggi yang dimasukkan ke piring tersebut, kemudian dipotong-potong dengan menggunakan sumpit kayu (jadinya terlihat seperti tekwan, hehe). Memakan sinonggi memang segar sekali, apalagi udara menjelang maghrib di pantai Teluk Kendari cukup dingin. Ditambah cita rasa pedas dari rawit, menambah selera makan tentunya. Menurut Bang Nato, seharusnya menelan sinonggi tidak perlu dikunyah, langsung ditelan saja, namun tentunya tidak untukku, yang baru pertama kali mencicipinya. :D

Satu Paket Sinonggi
Pict. By Me

Cara Memakan Sinonggi
pict By Me

Sinonggi yang telah siap disantap.
Pict By Me.

Ikan bakar baronang
pict By Me

Usai menikmati suasana senja di Kampung Bakau Kendari, kami pun kembali berkeliling Kota Kendari, kami diajak berkunjung ke Masjid Al Alam Kendari yang berada di tengah laut. Masjid tersebut sudah diresmikan, namun belum dapat digunakan karena masih ada yang perlu dibenahi, namun suasananya sangat menarik, karena berada di tengah-tengah laut. 

Suasana Pantai Teluk Kendari

Bersama suami di RM. Kampung Bakau yang berada di atas Pantai Teluk Kendari
Taken by : Bang Nato

Masjid Al Alam Kendari.
Pict By Me
Seusai dari masjid, kami mencicipi kuliner kembali, kali ini kami mencicipi kuliner khas Makassar tepatnya, yang tentunya juga banyak dijual di Kota Kendari, yakni pisang Epe dan Saraba. Pisang Epe adalah pisang kepok beukuran sedang, yang kemudian dijepit (dipadatkan/dipipihkan), kemudian dibakar. Setelah matang kemudian diberi toping gula merah kental dan toping lainnya sesuai selera. Untuk kali ini aku memilih toping keju. Sementara saraba adalah minuman campuran jahe dan gula merah yang dimasak dan dihidangkan hangat-hangat. Sungguh perpaduan yang nikmat, untuk kondisi malam di Kendari yang cukup dingin. Usai menyelesaikan santapan pisang epe dan saraba, kami pun kembali ke hotel dan beristirahat.

pisang epe dan Saraba
pict by me

----------------------------------------
Jumat, 30 Maret 2018, pagi hari waktu Kendari.
Sebenarnya kondisiku masih lelah, namun kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Muna (salah satu daerah Kabupaten yang ada di Kendari) dengan menggunakan kapal cepat. Jujur saja, aku masih ingin istirahat di hotel. Namun, Abang menyarankan agar kami pergi dengan menggunakan kapal cepat pada jadwal pagi hari, karena kalau siang, ombak laut akan kencang. Dengan agak sedikit enggan, akhirnya aku pun ikut saran Abang dan bertolak meninggalkan hotel menggunakan grabcar menuju pelabuhan. Saat itu, kami diantar oleh keponakan Abang bernama Ica yang kebetulah masih menempuh kuliah di Universitas Halu Uleo Kendari jurusan Hubungan Internasional.
Selfie bersama Ica sebelum naik kapal Cepat menuju Muna

Setelah memesan tiket, sekitar pukul 08.00 WIB kami bertolak menuju Muna. Perjalanan ditempuh dalam waktu 4 jam. Kapal ini cukup nyaman, Abang sengaja memesan tiket VIP agar aku nyaman selama berada di atas kapal. Untuk fasilitas VIP, dilengkapi dengan AC, sofa duduk yang tidak berdesakan dan televisi. Harga tiket vip/orang adalah Rp 250.000,-. Selama perjanan kami dihibur dengan lagu-lagu nostalgia dari DVD TV kapal, seusai itu, kami dihibur dengan film India laga. Aku tidak terlalu menikmati perjalanan laut tersebut, hal itu dikarenakan, selama perjalanan perutku sakit dan aku  terserang diare. Sepertinya aku terlalu banyak makan rawit saat menikmati sinonggi.
Namun, semua itu bisa kuatasi, karena tepat sekitar pukul sebelas lewat, kami tiba di dermaga Muna. Kami disambut dengan keluarga Abang saat turun dari kapal dan segera bertolak ke Kota Laworo yang berjarak setengah jam dari dermaga dengan perjalanan darat.
Tiba di rumah Kakak Abang, kami disambut oleh keluarga Abang, ada suasana haru, di mana Bapak mertuaku menangis menyambut kami. Umur beliau sudah menginjak 90 tahun, namun masih sanggup berjalan sendiri.
Usai beristirahat, kami pun makan bersama. Saat itu, aku disuguhi lapa-lapa (Semacam lontong yang dibungkus daun kelapa dan dicampur santan) dan bening daun kelor. Sayur beningnya benar-benar bening loh... tanpa bawang, tomat, lengkuas. Hanya air bening dan garam. Oh.. ya Allah.. benar-benar bukan seleraku, tetapi sepertinya lebih sehat seperti ini yah. Selain itu juga ada goreng ikan pindang, sambal tahu dan tempe goreng. Selain itu, untuk santap malam, kami disuguhi ayam kampung masak kowe. Kowe adalah gulai khas masyarakat Muna, di mana menggunakan kelapa goreng yang ditumbuk sangat halus, kemudian dicapur bawang merah, bawang putih dan garam serta daun kedondong. Untuk cita rasanya enak, segar, karena daun kedondong memberikan cita rasa segar pada masakan. Dan tentunya cita rasa ayam kampung yang gurih membuat selera makan kian menambah. Ayam kampung masak kowe ini dimakan dengan menggunakan lapa-lapa (semacam lontong). Ahhh, nikmatnya.
Ayam Kampung Masak Kowe
pict By Me

Lapa-Lapa Khas Muna
Pict By Me


Keesokan paginya aku diajak Abang pergi ke tempat pemandian dekat rumah. Namanya tempat pemandian matakidi. Dalam bahasa Muna, kidi berarti kecil, artinya adalah tempat pemandian mata air kecil. Abang bercerita teman pemandian ini sudah ada sejak ia kecil. Di sinilah dahulu ia belajar berenang pertama kalinya. Airnya memang sangat jernih, namun udara pagi itu cukup dingin, sehingga aku mengurungkan niat untuk ikut mandi juga di sana.

Pemandian Mata Kidi, Muna
Pict By Me



Siang harinya, aku disuguhi rambutan segar yang dipetik langsung dari pohon. Sungguh manis rasanya. Wah..benar-benar kunjungan yang menyenangkan. Rasa-rasanya hilang semua lelah di perjalanan. Selain mengunjungi keluarga Abang dan bertemu Bapak Ibu Mertua, tentunya aku juga bisa berbagi pengalaman dan cerita dengan keluarga baruku di Kendari dan Muna.
Keesokan harinya, kami bertolak kembali ke Jakarta dengan menaiki pesawat dari bandara Muna menggunakan pesawat Garuda yang berkapasitas penumpang 60 orang. Ini adalah pengalaman pertamaku naik pesawat berukuran kecil. Cukup menguji nyali tentunya, apalagi saat mau landing, wah rasa-rasanya adrenalin benar-benar diuji. Tetapi alhamdulillah, setelah transit sementara di Makassar, tepat pukul 15.30 WIB kami tiba kembali di Jakarta. Welcome again Jakarta, Welcome again my real life!. Salam rindu Kendari. Sampai jumpa kembali.  



Ingin Mencicipi Kuliner Palembang di Kota Bengkulu? Ke Pempek 7 Ulu Cek Toni aja!

Senin, 05 Maret 2018

Aneka Jenis Pempek
Doc. Pribadi


Bagi pecinta kuliner Palembang, seperti pempek, tekwan, model, es kacang merah, kerupuk ikan, serta kemplang, tidak usah jauh-jauh ke Palembang jika Anda berdomisili di sekitaran Kota Bengkulu. Cukup dengan menempuh jarak sekitar 2km dari pusat kota, kita sudah bisa dimanjakan dengan beragam menu yang ada di warung Pempek 7 Ulu Cek Toni, yang berada di Simpang 4 Padang Harapan, Kota Bengkulu. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya simpang 4 Padang Harapan, sehingga mudah untuk ditemui.

Adapun menu-menu yang ditawarkan, yakni :

1.  Aneka pempek (pempek campur); pempek kapal selam, pempek kulit,   pempek lenjer, pempek adaan dan pempek keriting.
2.  Pempek Kapal Selam.
3. Tekwan ikan, semacam bakso ikan (berkuah semacam kuah sop), dengan pelengkap irisan bengkuang, mie soun, jamur kuping, daun bawang, irisan daun seledri dan bawang goreng sebagai toping.
4. Model Ikan, semacam tekwan, hanya bedanya, model berbentuk seperti bakso ikan ukuran besar yang berisi tahu di dalamnya, kemudian cara penyajiannya, bakso ikan besar tersebut diiris-iris ketika hendak dihidangkan, kemudian diberi kuah (semacam kuah sop) beserta toping yang sama dengan tekwan.
5. Es kacang Merah. Semacam es serut dengan toping dominan kacang merah rebus. Hampir sama dengan es campur.
6. Kerupuk Ikan dan Kerupuk Kemplang ikan. Kemplang adalah kerupuk yang dibuat dari tepung aci beserta cmpuran ikan giling dan bahan lainnya yang tidak digoreng cara memasaknya melainkan dibakar.
7. Rujak Mie; Mie Kuning dan Mie Soun beserta irisan tahu, timun, bawang goreng, irisan daun bawang, serta irisan daun seledri dilengkapi cuko pempek sebagai kuahnya.
8. Beraneka jus buah, es campur, es teler dan es jeruk.


Pempek Kulit (menu favorit) disandingkan dengan es Kacang Merah. 
Wuih! Seger! 😃
Doc. Pribadi


Model khas Pempek 7 Ulu
Doc.Pribadi



Walaupun warung-warung dengan menu makanan khas Palembang di Kota Bengkulu cukup banyak, Namun, menurut saya pribadi, yang paling mendekati rasanya dengan kuliner khas Palembang asli adalah warung pempek 7 Ulu Cek Toni ini. Selain harganya yang ekonomis, untuk kebersihan dan pelayanannya pun amat baik.


Kenangan dengan Pempek 7 Ulu

Sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saya adalah pelanggan Pempek 7 Ulu Cek Toni Simpang Empat Padang Harapan. Kebetulan kalau SMP dulu, kalau mau ‘jajan’ di tempat ini, tinggal jalan kaki dari SMP usai pulang sekolah, karena dulu sekolah di SMPN 4 kota Bengkulu yang berada di jalan Cimanuk, Padang Harapan, tidak jauh dari lokasi warung ini.

Saat SMP dulu (tahun 2003-2005), menu di warung Pempek 7 Ulu itu, terasa mahal sekali bagi saya. Untuk bisa jajan di sana, saya perlu menabung uang jajan dulu untuk mendapatkan tiga pempek kecil (seharga Rp 1.500,-/satu pempek.) Namun, ketika berhasil sampai ke sana dan makan di sana dengan berjalan kaki dari sekolah usai pulang sekolah, rasanya nikmaat sekali. Walaupun masih ingin tambah menu, namun keinginan dipendam, karena uang jajan yang dimiliki sudah habis,he). Sedih sih ingatnya, tetapi cukup membahagiakan, karena berani menabung sendiri demi bisa makan pempek 7 Ulu.

Nah, seiring berjalannya waktu, saat kembali lagi ke warung ini di bulan Maret 2018, saya sudah tidak memikirkan lagi akan kehabisan uang ketika membeli menu di sini. Alhamdulillah rasanya. Walaupun terkadang saya suka makan sendiri di tempat ini (tanpa ada teman yang menemani), tetapi saya bersyukur, karena selain makan pempek, saya juga bisa memesan es kacang merah sebagai menu minumannya (he..). Rasanya sangat membahagiakan.

Menu di Pempek 7 Ulu
Doc.Pribadi


Sebagai bocoran nih ya! Menu favorit saya, yaitu pempek adaan dan pempek kulit. Ayook dicicip! Jangan lupa berkunjung ke sana ya! 😄😃😄

“Jangan lupo adik sanak, ingek kuliner khas Palembang di Kota Bengkulu! Ingek ajo warung pempek 7 Ulu Cek Toni Padang Harapan!”