Abstrak

Minggu, 25 September 2016


Adalah suatu perjanjian, yang menjadi sebuah pengharapan. Di sana, secara tidak langsung terdapat sumpah dan nanti kau akan diminta pertanggung jawabannya. Apalah artinya, jika menjadikan harapan, apalagi yang menyangkut kebanyakan orang. Begitupun manusia, lahirnya pun berdasarkan suatu perjanjian, pada kepunyaanNya. Pada Dia. Adakah suatu hal, yang menjadi perenungan, disitulah nanti, engkau akan menambatkan suatu kekecewaan, engkau akan terdiam, ketika beberapa jiwa itu akhirnya kemudian terbang menghunuskan pedangnya pada dirimu, lalu mereka menangis, karena tidak sengaja. Lalu, kau bisa apa? Bisa menerima? Atau kemudian berjanji kembali, namun, waktumu sudah habis. Perjanjian, tidak akan menjadi hal yang sederhana, seserdehana pakaian Ibu yang bersahaja dengan keanggunannya, yang tidak pun seperti itu menjadi pongah. Hai, yang kemudian terlahir dari perjanjian, yang senantiasa ingkar. Begitupun semua dari itu, merekah, kemudian mekar, menjadi lembayung dan akhirnya layu, terbungkus oleh rasa kepalsuan yang kian menjadi benang tak berurai.
Dan itu pun akhirnya, datanglah sebuah pengandaian, lalu di mana keberanian itu? Jika mungkin tak juga kau pahami, bahwa, ada jiwa-jiwa yang kemudian meminta dirimu, hadir, hadir di sana melabuhkan sebuah pengharapan, melabuhkan setitik harapan.
Sebelumnya, jika ada nurani di sana, engkau pun akan tahu, ada suatu kenikmatan, jika janji itu terpenuhi, ada nada-nada indah di sana. Tawa mereka, canda mereka, hingga akhirnya kau melihat, bahwa ada yang mereka tunggu, ada yang mereka nantikan. Masih menunggu, jikalau akhirnya ada, mereka masih ingin dihadapkan pada pelangi itu, pelangi pengharapan. Semangat kami tentunya masih ada, masih ada untuk sekedar mengingatkan, jikalau mampu, adakah kau mampu, melihat, berpendar, mengalun kelopak itu, hingga akhirnya hujan pun turun, melahirkan wewangian, yang sejatinya membaui tanah.
Seprosa indah, sepuisi makna, seteratur sabdaNya. Itulah yang dapat diceritakan.

Sepenggal Kisah                                                     
Kemarin, ada tayangan tentang seseorang, tepatnya wanita muda berusia 20 tahun. Berparas cantik, dengan rambut sebahu, berkulit putih, bertubuh langsing. Ketika aku memperhatikannya, sungguh beruntung jalan hidupnya dan bisa jadi aku iri karenanya. Tentunya, aku sama sekali tidak iri dengan parasnya, melainkan, ada hal lain yang sejatinya membuatku kembali bersemangat ketika memerhatikannya. Dia seorang pengajar, atau lebih tepatnya, pengajar ‘relawan’ yang mengajar di kelas kecil dengan murid sekitar 8 orang. Ruang kelas itu nyaman, teratur, dengan cat dinding berwarna hijau yang menambah kesejukan mata yang memandangnya. Seragam anak-anaknya pun senada dengan cat dinding ruangan kelas itu, namun ada motif kotak-kotak pada bawahan seragam mereka. Murid-muridnya duduk rapi, mereka sangat antusias dengan pengajar cantik yang mengajarkan materi sederhana, yang bertema impian. Sekilas wajahku tergugu, “aaah… aku rindu kelas-kelas itu dan murid-muridku. Apakah mereka masih ceria? Atau masih sering bercanda? Atau apakah masih saja menggunakan kaos kaki selepas sekolah ketika masuk ruang les?,” kenanganku kembali.
Ya, tidak lebih dari dua tahun lalu, aku adalah pengajar. Lebih tepatnya aku mengajar anak-anak SD di sebuah bimbingan belajar. Aku sangat mencintai dunia pendidikan, oleh karenanya aku sangat bahagia ketika menjadi pelajar ataupun pengajar hingga saat ini. Pengajar, merupakan profesi yang sangat mulia, karena suatu pendidikan jika dilakukan dengan sempurna dan sesuai, akan melahirkan generasi yang luar biasa, tidak hanya cerdas melainkan tangguh. Aku mengajarkan mata pelajaran IPS, karena sedari SMA aku memang merupakan siswa dari jurusan IPS. Menurutku, IPS itu menyenangkan, suatu ilmu yang selayaknya menjadikan kita bisa berpetualang, kemanapun, ke seluruh dunia. IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), suatu jurusan yang sama sekali tak terbayangkan akan menjadi suatu masa depan bagiku, karena tadinya aku sangat ingin masuk kelas Bahasa ketika SMA, namun Ibuku tidak mengizinkan, hingga akhirnya aku lebih memilih untuk menurut setelah berdebat panjang dan berakhir air mata. Namun, saat ini, entah mengapa aku merasa beruntung karena memasuki jurusan itu, karena aku bisa mengetahui berbagai hal, mulai dari kehidupan sosial masyarakat yang tentunya amat rumit (sosiologi), memanajemen keuangan dan perekonomian (ekonomi), mengetahui keberagaman alam beserta unsur lapisan bumi (geografi) dan tentunya politik yang rumit namun asyik (sejarah dan kewarganegaraan).
Kembali lagi, dengan perjalanan sebagai pengajar.
Mengajar itu menyenangkan, kita bisa memahami karakter berbagai orang melalui murid-murid kita, dan tentunya kita dituntut untuk memahami dan mempelajari materi yang diajarkan dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Ya pada intinya, menjadi pengajar memang harus cerdas, karena mengajar bukan sekedar pintar saja, tetapi kita juga harus memahami kondisi dan metode apa yang tepat untuk digunakan di suatu kelas. Mengajar itu menyenangkan, ketika engkau melihat wajah-wajah itu tertarik akan apa yang kau sampaikan, tentang apa yang kau kusuguhkan, kemudian menjadi menu paling nikmat dalam benak mereka.
Menjadi pengajar, tentunya bukan berarti menuntut semua anak untuk mengerti apa yang kita sampaikan, menjadikan kondisi dan suasana belajar yang menyenangkan merupakan suatu hal yang tentunya menjadi hal yang lebih utama.
Simulasi di dalam ruang juga merupakan suatu hal yang penting. Nah, ketika berbicara simulasi, ada baiknya, aku kembali bercerita mengenai kondisi kelas yang ada pada tayangan televisi yang kemarin aku tonton. Pengajar cantik tersebut maju ke depan kelas, dengan membawa kertas warna-warni berbentuk kupu-kupu. “Nah, adik-adik, sekarang kakak punya kertas warna-warni, kalian bisa menulis mimpi kalian di sini, mau jadi apa nantinya. Oke? Cita-cita kalian apa?, nanti kertasnya dikembalikan lagi ya,” ucapnya. “Iya Kak…,” jawab murid-murid kompak dan antusias.
Sekilas, aku terbayang peristiwa beberapa bulan lalu yang aku lalui, dan tepatnya hal yang terjadi di ruangan kelas tersebut sama terjadi denganku, bedanya sama sekali tidak ada ruang kelas, hanya ada balai desa, hujan rintik dan anak-anak yang sama antusiasnya dengan keadaan mereka. Ah… seketika aku rindu anak-anak di desa itu, yang juga memiliki banyak impian selayaknya anak-anak di ruang kelas tersebut.
Setelah kertas tersebut kembali dikumpulkan, pengajar cantik tersebut membacakan tulisan yang mereka tulis. Dan ternayata, mereka ingin menjadi polisi, presiden, designer, party planner, design interior. Sementara itu,  anak-anak di balai desa, menyebutkan mereka ingin menjadi guru, pegawai PLN, serta pemain bola.
Waah sungguh cita-cita yang beragam dan seluruhnya mulia. Ada yang menarik ketika salah satu murid di ruang kelas tersebut dipanggil maju ke depan ruang kelas, karena impiannya menjadi seorang presiden. “Kenapa kok kamu mau jadi Presiden?” ucap guru cantik tersebut. “Aku kalau nanti jadi presiden kan bisa merintah-merintah tentaraku gitu, jadi aku bisa ngancurin negara,” ucap murid tersebut polos. “Loh, kok ngancurin negara?” ucap guru cantik sedikit tercengang. “Maksudku, aku mau ngancurin negara lain, jadi gak ada yang berani ma negaraku,” jawabnya sembari memutar-mutar ujung jaket hijaunya. “Oooh.. gitu.., jadi nanti seperti belain negara gitu ya. Oke, great!” ucap guru cantik sembari tersenyum. Aku pun tertawa di hadapan layar kaca. Luar biasa, melindungi negara, anak sekecil itu punya pikiran secemerlang itu. Tentunya, semoga menjadi cita-cita yang tercapai, tetap mulia dan berhasil melindungi negara dengan kuasa serta nurani yang dimiliki nantinya.
Hal yang kemudian menjadi istimewa lainnya yang menjadi hal yang perlu diperhatikan dan menjadi unik di kelas tersebut adalah, ada salah seorang murid yang menuliskan impiannya, yang lebih dari satu impian, tetapi seluruhnya berhubungan dengan design, nah itu dia tadi yang menuliskan ingin menjadi designer, party planner, serta design interior. “Kalau yang lain punya cita-cita yag tergolong masih umum, nah yang satu ini cenderung terfokus pada satu bidang yaitu design. Nah, dengan umur yang masih seusia dia, itu sangat luar biasa!,” ucap guru cantik, ketika diwawancarai seusai kelas berlangsung.
Ya, tentunya ada hal unik juga ketika aku berada di balai desa, beserta anak-anak di sana. Ketika mereka diberikan pertanyaan ingin memilih profesi apa, untuk simulasi permainan uji konsentrasi, salah satu dari mereka menyatakan untuk menjadi pegawai PLN. Tentunya aku sempat tertawa kecil, sembari membatin, “wah, luar biasa, jarang sekali ada anak kecil ingin menjadi pegawai PLN, bisa jadi mungkin ayah atau orang terdekatnya ada yang bekerja menjadi pegawai PLN.” Pada intinya setiap anak, pasti memiliki impian yang tidak umum dan tidak biasa, walaupun berbeda tempat dan keberuntungan.
Itulah salah satu inti dari pendidikan, menjadikan anak didik berkarakter dengan memunyai impian yang luar biasa. Tentunya, impian yang tidak umum dan cenderung ikut-ikutan, melainkan fokus pada kemampuan dan bakat yang dimiliki.
Finally, menjadi pengajar adalah impian, karena bangsa akan menjadi besar dengan memiliki pendidik yang luar biasa dan tentunya berkarakter. Memiliki nurani kemanusiaan yang mulia, menghargai setiap kelebihan dan kelemahan para pelajarnya, menciptakan suasana menyenangkan dan tentunya menjadi pemacu semangat bagi setiap peserta didiknya. Sederhana, layaknya cerita di Sokola Rimba atau pun Laskar Pelangi, di mana ada guru yang benar-benar merelakan hidupnya demi kemajuan anak didiknya, dan pada akhirnya membuktikan suatu pencapaian luar biasa, yaitu kesuksesan.
Sederhana, seluruhnya dapat berjalan dengan baik, begitupun menjadi pendidik, tak harus dengan ruang belajar yang senyaman di layar kaca, yang bercat hijau serta seragam yang berwarna sama. Di balai desa pun akan menjadi menyenangkan, karena ada ketulusan dan semangat di dalamnya.

                                                                                                                Rindu Desa Binaan, Pengajar Suka Rela.

                                                                                                                                3Latepost 
Post Comment
Posting Komentar