Menjadi Pengajar Muda, Sebuah Pilihan dan Tantangan.

Kamis, 14 Desember 2017
Walaupun banyak cerita di luar sana, namun cerita tentang sebuah kelas tetap menjadi cerita favorit saya hingga saat ini.

Sumber Gambar http://hi.fisipol.ugm.ac.id


Saya adalah seorang pengajar muda, lebih tepatnya orang yang berprofesi mengajarkan beberapa hal di sebuah Universitas. Jujur saja, untuk saat ini, saya lebih senang dikenal sebagai seorang pengajar dibandingkan seorang dosen. Karena menurut saya, jam terbang mengajar saya belum terlalu banyak dan belum terlalu berpengalaman. Hal ini dikarenakan saya baru saja menjadi pengajar sejak awal September 2016 lalu.

Menjadi seorang pengajar adalah pilihan yang saya pilih. Ya, pilihan yang bukan karena pilihan orang lain atau pun dikarenakan karena ajakan dari teman atau sahabat. Saya sangat ingin menjadi pengajar sejak awal saya masuk kuliah S1 (Saya adalah salah satu alumni Fisipol UNIB jurusan Ilmu Komunikasi). Walaupun nota bene saya adalah mahasiswa Fisipol saat itu, tetapi saya sangat ingin sekali menjadi pengajar.

Berdasarkan hal tersebut, sejak awal saya sudah meniatkan untuk melanjutkan studi lanjut usai lulus S1 nanti. Hal ini dikarenakan, untuk menjadi seorang pengajar dari jurusan FISIPOL tidak memungkinkan, dikarenakan khusus untuk sarjana S1, jika ingin mengajar, maka haruslah berijazah dari Fakultas Pendidikan bukan Fisipol.

Pada awalnya, saya dulu pernah memiih jurusan FKIP Bahasa Inggris di pilahan pertama saya saat masuk Universitas, sedangkan ilmu komunikasi Fisipol adalah pilihan kedua saya. Namun, dikarenakan grade FKIP Bahasa Inggris saat itu tergolong tinggi, maka saya lulus di jurusan Ilmu Komunikasi. Saya adalah salah satu mahasiswa yang masuk ke Universitas tanpa jalur tes pada saat itu (hanya mengandalkan nilai raport atau disebut sebagai jalur PPA. Penelusuran Potensi Akademik). Karena pengumuman Universitas menyatakan bahwa saya telah dinyatakan lulus di jurusan Ilmu Komunikasi, maka saya berpikir bahwa tidak masalah melanjutkan studi di jurusan ini, karena bidang komunikasi juga merupakan bidang yang menarik untuk dipelajari. Selain itu, jujur saja, saya waktu itu agak enggan untuk mengikuti tes bersama.

Perjalanan kuliah dimulai, singkat cerita saya lulus tepat 4 tahun. Setelah lulus saya berpikir untuk melamar pekerjaan. Namun, tak satu pun lamaran tersebut menerima saya. Saya pun berulang kali mengajukan ‘proposal’ kepada orang tua untuk melanjutkan studi, tetapi orang tua menyatakan agar saya bekerja dahulu baru melanjutkan studi. Keinginan melanjutkan studi itulah, yang mungkin menjadikan saya kurang serius dalam mengikuti setiap tes saat seleksi pencarian kerja.

Alih-alih melamar sebagai seorang wartawan atau misalkan Humas di suatu perusahaan, saya malah memilih untuk menjadi pengajar privat dan menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar yang ada di Kota Bengkulu.  Alhasil, akhirnya saya pun bekerja sebagai pengajar privat dan bimbel. Ya, memang, secara finansial gaji saya tidak seberapa, tetapi entahlah, di dalam hati saya, saya merasa bahagia ketika melihat murid-murid saya dengan tingkah laku mereka masing-masing saat berada di kelas.

Setelah satu tahun menjadi pengajar les, di tahun kedua pasca lulus, saya memutuskan untuk melanjutkan studi. Saya pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa pascasarjana, namun dinyatakan tidak lulus. Namun, karena memang sedari awal saya sudah sangat berniat untuk melanjutkan studi, maka kedua orang tua saya pun akhirnya mengizinkan saya untuk melanjutkan studi ke Universitas Pilihan saya dengan biaya mandiri.

Dalam perjalanan menempuh S2, banyak hal yang akan saya ceritakan nantinya, seperti bagaimana tips dan trik saat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk pascasarjana, kemudian bagaimana caranya agar semangat mengerjakan tesis dan bagaimana caranya agar tidak hanya menjadi mahasiswa saja saat menjadi mahasiswa pasca. Namun untuk kali ini, justru saya akan lebih memfokuskan topik tulisan ini, pada perjalanan saya menjadi pengajar, pasca menjadi seorang Master di jurusan ilmu komunikasi.

Foto Wisuda PascaSarjana UGM, Juli 2016

==========================================================
Tidak jauh dari hari kelulusan saya di Yogyakarta, saya kemudian didaulat untuk mengajar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Kota Bengkulu. Setelah itu berselang satu semester, saya dipercaya sebagai salah satu tim pengajar di Universitas Terbuka (UT) Bengkulu. UT merupakan salah satu institusi Negeri milik Pemerintah. Di UT Bengkulu, proses belajar mengajar berlangsung di kelas salah satu SMA/SMP Negeri, sehingga proses belajar mengajar hanya berlangsung dari hari Sabtu-Minggu. 

Lambang UT . Sumber : google.co.id


Di UT, mahasiswa berasal dari beragam kalangan, tergantung dari Pokjar/Wilayah belajar. Saat saya ditempatkan di Lebong (salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu), rata-rata mahasiswa UT Lebong untuk jurusan ilmu komunikasi adalah anak-anak yang memang baru lulus dari SMA atau maksimal dua tahun telah lulus  dari SMA. Sementara di saat saya ditempatkan di Bengkulu Tengah (Benteng, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu), ada satu kelas yang berisikan mahasiswa rata-rata berusia di atas 40 tahun (para pegawai BKKBN).

Suasana mengajar, tentunya dipengaruhi juga oleh peserta ajar. Hal inilah yang saya rasakan ketika saya mengajar mahasiswa yang usianya jauh di atas saya. Sesungguhnya, bukan kali pertama saya mengajar mahasiswa yang umurnya jauh di atas saya, namun saat mengajar di Benteng jumlah kuota mahasiswanya lebih banyak dari yang sebelumnya. Biasanya, saya mengajar kelas karyawan di Universitas Swasta di Bengkulu, mahasiswanya hanya berjumlah 7 orang, di UT Benteng ini saya mengajar mahasiswa karyawan berjumlah 15 orang. Kebetulan, saat itu saya memegang kelas penulisan karya ilmiah. Rata-rata mahasiswa saya usianya sama dengan Ibu saya, mereka adalah para pegawai BKKBN yang diwajibkan untuk menempuh kuliah S1.

Saat awal perkenalan,  tidak ada rasa canggung dalam diri saya, namun yang jadi persoalan adalah saya hanya berpikir keras, bagaimana agar Bapak/Ibu ini bisa lulus dari mata kuliah ini. Intinya, setelah menjalani masa perkuliahan selama 8 kali pertemuan (di UT, perkuliahan hanya berlangusng 2 bulan untuk satu semester), para mahasiswa ini telah mampu menuliskan satu kaya ilmiah sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Saya hanya terus memikirkan, metode apa yang akan saya gunakan untuk dapat membimbing mereka satu persatu.

Proses belajar mengajar pun berlangsung setiap minggunya. Setiap mengajar saya dengan tulus menjelaskan bagaimana pedoman penulisan secara ilmiah, penulisan kutipan dan daftar pustaka. Namun, ketika bimbingan, masih saja terdapat kesalahan yang sama. Terkadang, ada mahasiswa yang tidak paham menuliskan idenya di dalam latar belakang, selain itu, untuk pengutipan pun masih banyak yang belum benar. Hal ini terjadi hampir setiap minggu. Saya rasanya ingin menyerah, mengapa mereka sulit sekali paham? Namun, lagi-lagi saya tersadar, mereka bukan lagi anak-anak seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. Ada tanggung jawab lain yang membuat konsentrasi mereka kurang fokus. Selain kuliah, mereka juga memiliki tanggung jawab lain, yakni mengurusi urusan pekerjaan dan rumah tangganya masing-masing. Selain itu, usia mereka pun tidak lagi muda.

Ada satu cerita menarik dari kelas ini. Ada satu orang mahasiswa saya yang saya rasa sangat bersemangat dalam menempuh perkuliahan. Usianya sudah lebih dari 50 tahun, tetapi jarak yang ia tempuh untuk bimbingan tidak menjadi masalah. Dengan menggunakan sepeda motor, beliau pergi ke rumah saya untuk bimbingan karya ilmiah, padahal jarak tempuh yang ditempuh cukup jauh dengan medan yang tidak biasa (dari Bengkulu Tengah ke Kota Bengkulu).

Walaupun dengan keragu-raguan pada saat perkuliahan (khawatir karya ilmiah para mahasiswa tersebut tidak selesai), namun akhirnya karya tulis mereka rampung sesuai dengan waktu yang ditentukan. Hari itu, di tanggal 15 Oktober 2017, kami menutup kelas dengan makan bersama.

Suasana Makan Bersama, di perkuliahan terakhir kelas Karya Ilmiah, UT Bengkulu Tengah.
Lokasi Belajar SMA N 1 Kembang Seri.

Ya, cerita tentang dunia pendidikan memang tidak akan pernah usai dan usang. Ada banyak isah dan hikmah yang dapat diambil dari beragam potret pendidikan, khususnya potret pendidikan di sekitar kita. Pendidikan bukanlah melulu soal nilai dan penghargaan, namun di balik itu, ada perjuangan keras dan beragam tantangan yang harus dijalani, baik itu dari para pengajarnya sendiri, maupun dari peserta didiknya sendiri.



                                                                                    Desember, 2017. RekamJejak YueAyuu
12 komentar on "Menjadi Pengajar Muda, Sebuah Pilihan dan Tantangan."
  1. sebagai pengajar muda,ada tips nggak yang harus dilakukan agar kita tidak gerogi menghadapi audiens yang lebih tua dari kita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo saya pribadi Pak, yg penting kuasai materi pembelajaran Pak, selain itu perbanyak jam terbang mengajar juga penting, khususnya yg peserta ajarnya usianya jauh lebih tua dr kita. Karena, intinya mengajar selayaknya public speaking, semakin srg berlatih dan semakin paham materi maka kecenderungan untk grogi akan smkin berkurang. 😊😊

      Hapus
  2. Seru ya bisa bertemu dengan orang-orang yg bersemangat belajar seperti mereka. Sudah berumur tp ttp semangat belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbk Zefy.. itu menandakan bahwa kita harus lbh smngat lg belajarnya... jgn mau kalah ama beliau2 yg semangatnya msh ON sampe skrg... 😊

      Hapus
  3. Wah salut banget sama salah satu mahasiswanya Mba. Yang muda aja belum tentu punya keinginan dan usaha kaya gitu. Makasih sharingnya, jadi terinspirasi untuk terus belajar. :)

    BalasHapus
  4. Menjadi pengajar memang menjadi pilihan, karena jadi guru itu mesti jadi role model untuk siswanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbk... Karena profesi pengajar it bkn profesi yg biasa, mmg hrs bnr2 berhati2 dlm berperilaku, krn kita akan dijadikan role model oleh peserta ajar. 😊

      Hapus
  5. Wah,, keren!!! Semangat mencerdaskan bangsa ya kak ^^

    BalasHapus
  6. Mengajar itu soul..lanjutkan mbak..

    BalasHapus
  7. Aku dulu awalnya malah gak mau jdi pengajar atau guru mbak tpi ortu meminta utk kuliah di fkip. Langsung deh pilihan pertama ambil fkip B.Ing unib untungnya lolos di jalur undangan, nah pas kuliah dan sambil ngajar les baru deh mulai merasa nyaman jdi guru dan pengajar. Malah ketagihan deh haha

    BalasHapus
  8. Wah, ikut mengajar juga ya di UT. Mantap nih, makin banyak pengalaman mengajar akan semakin membuat kita kaya pengalaman. Termasuk menghadapi melakukan banyak orang

    BalasHapus
  9. Mantap mbak, duh gak bisa dibayangkan gimana groginya ngajar orang yg lebih tua dari kita.

    BalasHapus