Top Social

Menanggapi Perbedaan

Senin, 28 Mei 2018
Photo by Google

Dalam menjalani kehidupan ini sudah pasti kita akan menemui beragam perbedaan, baik perbedaan dalam keyakinan, cara pandang maupun perbedaan dalam menjalani kehidupan. Tentunya dalam hal ini, kita perlu mawas diri, bahwa setiap perbedaan yang ada adalah sunnatullah dari Allah SWT yang akan terus ada hingga akhir hayat ini.

Beberapa perbedaan tersebut tentunya akan membawa warna-warna dalam kehidupan. Ada kalanya, orang banyak yang berkeluh kesah, mengeluh bahkan cenderung tidak menerima dengan adanya perbedaan tersebut. Tak ayal banyak terjadi perdebatan berkepanjangan, saling menyalahkan bahkan terjadi penghakiman yang cenderung tidak adil atas cara pandang memandang perbedaan yang ada.

Adanya ketidakseimbangan dalam menghadapi perbedaan inilah yang perlu kita hindari. Hal ini dilakukan agar kehidupan kita akan tetap seimbang, baik secara jasmani maupun rohani. Agar tidak ada perpecahan yang kemudian menimbulkan stigma-stigma negatif di dalam kehidupan.

Jika berkaca pada kehidupan era saat ini, kemunculan stigma negatif akan suatu hal dapat sangat kentara terlihat. Bayangkan saja, setiap hal kian transparan terlihat, di mana era saat ini kita kenal degan era digitalisasi, di mana kita bisa menilai seseorang dengan hanya mengikuti setiap timeline yang ada di media sosialnya. Kita juga bisa menilai, bagaimana individu tersebut menanggapi setiap perbedaan yang ada, dengan hanya melihat aktivitas yang sering dilakukannya dengan fasilitas-fasilitas dunia maya yang tersedia. Toh, secara tidak langsung kita dapat belajar secara bijak, jikalau apa yang ditanggapi tersebut memuat pesan positif, kita dapat mendapatkan suatu hal yang membawa kita pada pola pikir yang positif. Lalu bagaimana jika yang kita dapatkan itu justru sebaliknya? Acapkali kita senantiasa membaca timeline yang tentunya selalu membawa kita pada pikiran yang negatif, alih-alih ingin bertenggang rasa dengan perbedaan yang ada, justru kita malah semakin setuju akan penciptaan negatif pada suatu kelompok atau suatu hal yang menurut kita kurang sesuai. Dalam hal ini, tentunya kita dapat menciptakan suatu bentuk gatekeeper tersendiri pada diri kita. Di mana kita dapat menjadikan stimulus-stimulus di dalam otak kita untuk tidak serta merta mengikuti dan menyetujui stigma negatif tersebut.
                Lalu, bagaimana cara menanggapi perbedaan yang ada? Baiklah saya akan mencoba sharing tentang pengalaman saya dalam menanggapi perbedaan yang selama ini saya alami.

1.       Selalu berpikir positif atas perbedaan yang ada
Para pakar ahli kesehatan dan ahli psikologi, selalu saja menyampaikan pesan kepada para pasien atau kliennya agar selalu memiliki pikiran yang positif akan beragam hal yang ada. Oleh karenanya, jika kita menghadapi sebuah perbedaan dalam kehidupan, kita pun harus berpikiran positif. Lalu, bagaimana jika ada individu atau sekelompok orang yang senantiasa memaksakan pendapatnya agar kita mau mengikuti pendapat atau saran mereka tersebut. Nah, lagi-lagi kita harus tetap mawas diri dan menjadi gatekeeper bagi diri kita sendiri. Jika menurut kita kurang sesuai saran atau pendapat tersebut, kita bisa menyampaikan penolakan secara baik-bai, dengan tetap menggunakan kalimat yang santun. Tidak perlu kita justru saling beradu pendapat, berdebat kusir, sehingga menjadikan suasana semakin terlihat absurd dan kacau. Tidak perlu merasa yang paling benar dan banyak ilmu. Karena seorang pribadi yang baik adalah seseorang yang mampu menahan dirinya ketika tersulut perdebatan. Atas dasar inilah, kita seharusnya juga dapat mengambil suatu pembelajaran, bahwa kita tidak boleh memaksakan apa yang kita pahami dan pikirkan kepada orang lain, sekali pun itu keluarga dekat kita.

2.       Pelajari terlebih dahulu hal yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.
Saya pernah berada dalam kondisi pertemanan yang begitu berbeda dalam memandang kehidupan, khususnya dalam menanggapi perbedaan cara pandang menjalankan perintah agama. Terkadang mereka seringkali ekstrim dalam menanggapi perbedaan tersebut. Tentu saja saya yang notabene kurang menerima pendapat mereka tersebut sempat ‘merasa panas’ dan rasanya ingin segera pergi dari pertemanan tersebut. Namun hati kecil saya selalu berkata, ‘Untuk apa pergi dari mereka? Toh mereka adalah saudaramu, mereka adalah partner hidupmu’. Oleh karenaya, untuk saat itu dan hingga saat ini, saya akan berusaha diam jika mereka berpendapat ekstrim akan suatu hal, khususnya dalam hal menjalankan perintah agama. Jikalau mereka berpendapat di depan saya langsung, maka saya akan menjawab, ‘tolong jangan bahas tentang bagaimana cara seseorang menjalankan agama, karena itu sensitif, ada baiknya kita membahas yang lain.’ Jikalau sudah seperti itu jawaban saya, biasanya mereka mereda sendiri dan kami kembali berdiskusi hal lain yang lebih luwes untuk didiskusikan. Dan hingga saat ini, hubungan pertemanan kami masih sangat baik.
Tentunya saya memaklumi juga apa yang seringkali mereka lontarkan, hal ini dikarenakan saya juga cukup tahu mereka berasal dari latar belakang keluarga dan budaya yang bagaimana, sehingga secara tidak langsung akan memengaruhi pola pikir mereka akan sesuatu.

3.       Perbanyaklah pergaulan dengan siapa pun.
Jika kita memiliki banyak teman dan cenderung tidak menutup diri, maka kita akan dapat mempelajari beragam karakter yang dimiliki oleh orang lain. Tentu saja bukan hanya karakter, tetapi kita juga bisa memahami budaya dan cara pandang mereka. Pengalaman saya, saya pernah ditemukan dengan dua orang dokter spesialis perempuan yang memiliki karakter yang cenderung membuat saya terkaget-kaget dengan cara mereka menghadapi pasien. Dokter pertama cenderung tidak mau banyak ditanya akan sesuatu hal yang mendetail. Justru dokter tersebut menyatakan bahwa saya yang harus lebih banyak membaca dan mencari informasi jika ingin lebih banyak tahu. Sontak saya kaget dan kesal. Namun, ketika saya pikir-pikir ulang ya mungkin memang sudah karakter Dokter ini seperti ini. Sementara Dokter yang kedua, cenderung menggunakan bahasa sapaaan ‘Loe-gue-loe gue’ dan cenderung blak-blak’an dan kekeuh mempertahankan pendapatnya. Sementara saya pun sebenarnya kekeuh juga menyampaikan riwayat kesehatan saya. Jadi terdapat kesalahan informasi di lembar pendaftaran tentang riwayat kesehatan saya, sementara sang Dokter kekeuh mempertahankan catatan tersebut. Hingga akhirnya, di akhir diskusi kami, kesimpulan yang diambil adalah pendapat saya. Tentunya saya kaget juga diperlakukan seperti itu oleh seorang Dokter, namun lagi-lagi saya berkata dalam hati, mungkin memang sudah karakter dan pembawaannya seperti itu. Toh Dokter ini lebih mendetail walau sedikit blak-blakan. Dan tentunya, ketika kita telah memiliki banyak pergaulan, kita cenderung lebih mudah memaafkan beragam perbedaan yang ada.

4.       Selalu Ada Hikmah dalam Perbedaan
Apapun yang ada dan terjadi adalah Qadarullah (ketetapan Allah). Semua yang kita lalui adalah suatu hal yang sudah ditetapkan dan ada hikmah yang dapat dipetik dari sana. Adanya beragam polemik yang kita lihat terjadi di negeri ini, yang tentunya salah satu penyebab kehadirannya karena adanya perbedaan, juga pasti terjadi karena memang sudah menjadi qadarullah. Nah, tugas kita adalah tetap menjadi bijak dalam menanggapi setiap hal yang ada. Jangan justru turut memperkeruh suasana dengan melemparkan pendapat-pendapat negatif atas terjadinya suatu polemik. Ada baiknya kita melakukan tugas kita dengan baik dan menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Akan lebih baik lagi jika kita mampu memberikan solusi dan berperan aktif untuk menyelesaikan polemik tersebut.

Perbedaan, tentunya menjadi suatu hal yang indah jika kita mampu menyikapinya dengan baik. Bijak dalam menjalankan peran, bijak dalam menghadapi setiap hal yang ada. Lalu, untuk apa mengeluhkan perbedaan yang ada? Untuk apa merasa tidak suka dengan adanya perbedaan? Okey... mulai sekarang positiflah dalam menanggapi perbedaan yang ada. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š





12 komentar on "Menanggapi Perbedaan "
  1. Meski beda, tp kita ttp Indonesia ya mbx..

    BalasHapus
  2. GK ad yang sama..bahkan untuk gembar indentik sekali pun..betul dihargai..
    Karena berwarna-warni pelangi itu indah bukan ๐Ÿ˜

    BalasHapus
  3. Pelngi itu indah karena berbeda-beda warna.... begitu juga kehidupan sesama nanusia, perbedaan lah yang nenjadikan hidup kita indah...

    BalasHapus
  4. Perbedaan itu membuat semuanya jadi lebih indah...

    BalasHapus
  5. Perbedaan bukan berarti penghalang๐Ÿ’› mantep bnget penjelasannya

    BalasHapus
  6. Terkadang dengan adanya perbedaan malah membuat hubungan emosional kita jadi lebih berharga, karena saling melengkapi,

    BalasHapus
  7. Pelangi itu cantik karena warnanya beda-beda. Dan seharusnya kehidupan juga jadi makin indah karena ada perbedaan di mana-mana ya mbak. Bukan jadi pemecah belah. :’)

    BalasHapus
  8. Banyak bergaul memang jadi solusi jitu buka pikiran akan perbedaan ya mbak. Kalo biasa ketemu karakter yang bermacam-macam, Insya Allah nggak akan begitu kaget lagi ketika menghadapi perbedaan.

    BalasHapus
  9. Berbeda beda tetap satu jua itulah kita yaaak

    BalasHapus
  10. Banyak yg suka nynyir , hate speech hanya karena berbeda dikit

    BalasHapus
  11. perbedaan harusnya bukanlah masalah ya, perbedaan itu justru membuat hidup lebih indah dan bewarna ^^

    BalasHapus
  12. Hu um, stay positif ๐Ÿ’ช

    BalasHapus