Top Social

'Fresh Wife', Why Not?'

Senin, 20 Agustus 2018

Photo by google.com
Hai... apa kabar? Semoga kita semua dalam suasana yang diberkahi Allah ya dan tentunya kita termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur. Kali ini, saya ingin sharing tentang kehidupan saya sebagai Fresh Wife a.k.a. kalau istilah saya sih istri yang masih ‘fresh’ gitu (he..he..), karena masih dalam hitungan bulan tentunya.
Nah, btw nih ya, untuk Mbak-Mbak atau Kakak-kakak yang belum menemukan jodohnya saya doakan semoga segera menemukan jodohnya. Semoga mendapatkan jodoh yang sholeh/sholehah dan tentunya bonusnya lagi kalau jodohnya sesuai kriteria ya, aamiin. Untuk yang belum meniatkan menikah, hayuk buruan diniatkan menikah, karena beribadah itu harus diniatkan dan diusahakan, intinya jangan putus berdoa dan selalu berprasangka yang baik pada Allah. Karena Allah itu Maha Pendengar doa-doa kita. Intinya nih ya, kalau syarat-syarat sudah terpenuhi, misal nih, sudah baligh, siap lahir dan bathin, nah tunggu apa lagi, ayoo.. diniatkan menikah. 

Fyi nih ya, waktu itu saya berniat menikah sekitar 4 tahun yang lalu dan baru menemukan jodoh di tahun ini. Tentunya perjalanan begitu berliku. Belum lagi sudah banyak teman-teman seumuran yang menikah, bahkan adik-adik tingkat saat kuliah pun sudah silih berganti mengirim undangan. Belum lagi, dua tahun setelahnya bukan lagi semacam rutinitas mendatangi undangan walimah, melainkan juga kunjungan kepada sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat yang telah melahirkan. Hummm,, antara senang dan sedih sih (he...), tetapi memang itulah yang harus dijalani. Belum lagi yang paling buat sedih adalah ketika sahabat-sahabat di berbagai komunitas sudah pada launching undangan, sementara saya masih saja di urutan teakhir (belum dipinang) dan akhirnya rela menjadi tamu undangan lagi (hu..hu..)

Sebenarnya untuk urusan lamar melamar, memang sudah ada yang hendak melamar sebelum-sebelumnya, namun apa mau dikata, hati belum bertemu jua dengan yang klik. Karena menurut saya kala itu dan hingga saat ini, ketika memutuskan menikah dengan seseorang, maka haruslah berdasarkan rasa cinta dan kagum, bukan karena paksaan atau pun pura-pura suka. 

Dan jawaban atas doa-doa panjang pun terjawab di tahun keempat penantian. Alhamdulillah prosesnya mudah dan tidak terlalu sukar. Seperti istilah ’mestakung’atau ‘semesta mendukung’, semuanya merestui, semuanya dimudahkan.
And finally, I am A Wife now....
But, its not a final, its just a new begin.... Perjuangan the real life baru saja dimulai.
................................................................
Okey, well, sekitar seminggu pascamenikah, saya hijrah ke Jakarta bersama suami. Tepatnya di Jakarta Barat, kawasan Palmerah. Lingkungan tempat kami tinggal berada di sekitaran lingkungan kampus Bina Nusantara. Di mana di lingkungan ini, kampus Binus terbagi menjadi tiga gedung, yakni Binus Anggrek, Binus Syahdan dan Binus Kijang. Ketiga gedung perkuliahan tersebut berjarak sekitar 1 hingga 3 km, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik angkot ataupun gojek. 

Seperti diketahui, kawasan Jakarta Barat adalah kawasan terpadat dibandingkan dengan kawasan Jakarta lainnya, sehinga jangan heran kalau tinggal di sekitaran sini, dari mulai kawasan elit hingga yang tinggal berdesak-desakan di gang-gang sempit pun ada di sini. Dari mulai kehidupan elit hingga kehidupan masyarakat menengah ke bawah pun ada di depan mata.

Seminggu tinggal di sini, saya masih merasa jet lag, namun lama kelamaan saya terbiasa dengan suasana. Okey, fyi nih, semenjak saya hijrah ke Jakarta Barat saya off dari aktivitas sebagai dosen dan kemudian memilih menjadi house wife untuk sementara waktu. Namun, kegiatan perkuliahan yang berkaitan dengan perkuliahan komunikasi masih tetap saya jalankan, di mana saya hingga tahun ini masih terctat sebaai salah satu tutor online di Universitas Terbuka untuk mata kuliah di prodi Ilmu Komunikasi. Perkuliahan online menjadikan saya hanya bisa melakukan konsultasi via online dengan para mahasiswa, tanpa bertemu mereka secara langsung, seperti yang biasanya saya lakukan dahulu.

Pada awalnya menjalani kehidupan sebagai housewife, ada rasa jenuh menimpa, terkadang saya kerap menangis tanpa alasan, bisa jadi karena jenuh, karena saya belum juga terlalu banyak mengenal orang-orang di sekitaran saya. Jujur, teman saya saat itu ya hanyalah suami saja. Sebenarnya sejak awal saya tinggal di sini, suami sudah mendorong saya untuk melamar menjadi dosen kembali, tetapi saya menolaknya, karena saya masih ingin beradaptasi dengan kehidupan Jakarta, ditambah saya dinyatakan positif mengandung tidak lama dari masa pernikahan kami. Alasan inilah yang kemudian menambah kebimbangan saya untuk tidak melamar pekerjaan dulu sementara waktu, karena saya ingin awal kehadiran bayi kami nanti, ibunyalah yang mengasuhnya bukan orang lain.

Terkadang ada rasa rindu pada suasana kampus dan kelas. Apalagi ketika melihat teman-teman angkatan saya mempelihatkan kelas dan mahasiswa mereka di sosial media, wah.. rasa-rasanya saya ingin kembali mengajar. Namun hingga saat ini, raga saya belum tergerak untuk melamar pekerjaan kembali karena ada hal baru lainnya yang akan saya didik nantinya, lebih dari sekedar mendidik mahasiswa.

Walaupun terkadang saya rasanya ingin marah pada segelintir orang yang kurang bijak, yang menyatakan bahwa ‘untuk apa berpendidikan tinggi, tetapi hanya di rumah saja,’ atau ‘jadi perempuan itu harus bekerja, iya kalau suamimu setia terus!’, atau ‘saya bangga bekerja sendiri, walaupun suami saya mapan, karena menurut saya perempuan itu harus mandiri’. Loh, lalu apa salahnya menjadi House Wife? Bukankah House Wife itu juga suatu pekerjaan? Di mana keutamaannya lebih tinggi dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya? Kalau menjawab pernyataan, ‘belum tentu suamimu itu nantinya selalu setia,’ tentunya hal ini menurut saya lebih lucu lagi, mengapa? Karena menurut saya rezeki Allah itu banyak dan luas. Dan berdoalah agar kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja, soal bagaimana nantinya, serahkan saja pada Allah. Jangan sampai alasan kita bekerja, hanya karena takut kehilangan sesuatu yang sudah dititipkan Allah pada kita.

Pilihan seorang wanita, menjadi house wife atau pun wanita karir sekali pun, itu adalah pilihannya masing-masing. Sebagai pribadi yang baik tentunya kita bisa bijak menilai. Tak usahlah menambah beban orang lain dengan penilaian-penilaian negatif kita, atau merasa bangga dengan apa yang telah kita kerjakan. Karena apa yang kita lihat, belum tentu seperti hal yang sebenarnya kita lihat. Jujur saja, saat masih aktif mengajar dahulu, saya memang pernah berceloteh, sepertinya enak menjadi Ibu Rumah Tangga saja, karena bekerja itu capek. Tetapi, saat saya mengalaminya saat ini, saya rasa-rasanya ingin kembali mengajar saja. Namun, qadar Allah, siapa yang bisa memastikan kehidupan yang akan datang, boleh jadi, takdir berkata lain, bisa jadi saya akan kembali bekerja, bisa jadi tidak. Tugas kita saat ini hanyalah, tetaplah berprasangka baik padaNya.

......................................................................................
Sekedar berbagi, bagi para 'Fresh Wife' yang kebetulan akan atau sedang menjalani kehidupan baru sebagai house wife, saya ingin berbagi beberapa hal untuk tetap menjadi Istri sholehah yang tetap strong and happy.

Pertama
Ikhlas. Jika dahulu kegiatan rutinitas adalah pergi ke tempat kerja dan kemudian pulang saat sudah petang, nah saat ini pekerjaan kita adalah mengurus rumah dalam waktu yang tidak terhingga. Namun segalanya harus tetap diniatkan dengan ikhlas, tanamkan di dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan ini bernilai ibadah, sehingga kita akan melakukan pekerjaan yang terbaik, walau hanya di rumah saja.

Kedua
Sangat membantu jika memiliki hobi memasak. Yakinlah, memasak mampu mengeluarkan kita dari kejenuhan-kejenuhan yang kita rasakan. Cobalah beragam resep baru yang sangat mudah ditemui saat ini melalui sarana media online. Tentunya memasak sendiri akan lebih sehat dan higienis. Selain itu, kita juga dapat menghemat pengeluaran dengan rutin memasak setiap hari.

Ketiga
Lakukan hal yang disuka ketika sedang senggang. Walaupun saya hobi memasak, tetapi saya juga memliki hobi kulineran. Nah, jadi jangan heran kalau pernah bertemu dengan saya yang suka makan sendirian di tempat makan. Kebetulan daerah tempat tinggal ada di sekitaran kampus, jadi banyak tempat-tempat kuliner yang bisa dicicipi. Tetapi ingat, hobi kulineran boleh, tetapi jangan sampai buat kantong bolong yah, ingat-ingat anggaran (he...). Selain kulineran, mungkin kita bisa melakukan hal menarik lainnya yang memang menjadi hobi kita, misalnya merawat tanaman, menyulam, menjahit, atau menulis.

Keempat
Ikutlah beberapa komunitas-komunitas yang bernilai positif. Menjadi Ibu Rumah Tangga bukan berarti kita harus melulu di rumah dan menyendiri ya. Tetapi kita juga tetap harus melakukan pengembangan diri dengan ikut dalam berbagai komunitas yang bernilai positif. Tentunya jenu dong ya kalau misalnya di rumah terus berhari-hari, berbulan-bulan. Nah, alangkah baiknya kita berhenti sejenak dari rutinitas di rumah dan bergabung dengan komunitas-komunitas positif. Selain memperluas pergaulan, kita juga mampu berbagi pengalaman dengan orang lain di komunitas tersebut.

Kelima
Sesekali lakukan relaksasi dengan berolahrga atau pergi ke salon. Jangan mentang-mentang di rumah saja, penampilan kita menjadi tidak diperhatikan lagi ya, kita harus tetap menjaga kebugaran dan juga kecantikan tentunya. Tidak perlu mahal loh, berolahraga dan rajin merawat diri secara di rumah juga dapat menjaga agar tubuh tetap bugar dan wajah tetap berseri-seri. Apalagi kita memiliki pikiran yang senantiasa positif, otomatis wajah akan kian berseri. Selain itu, kita juga ada baiknya sesekali pergi ke salon, memanjakan diri. Nah, caranya adalah, menganggarkan sedikit dari uang belanja yang diberikan suami, kalau belum cukup sebulan sekali, ya paling tidak dua bulan sekali kita udah bisa pergi ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan. Oleh karenanya, pintar-pintarlah mengatur anggaran pengeluaran dalam keluarga.

Keenam.
Tetaplah bersyukur apapun kondisi kita. Nah, ini yang paling terpenting, karena ketika kita bersyukur maka segalanya akan terasa ringan. Ketika jenuh datang melanda apalagi sampai meneteskan air mata, cepat-cepatlah beristighfar. Karena kondisi ketka kita merasa tertekan atau merasa kurang nyaman, akan berakibat pada seluruh hal yang seharusnya telah rampung dikerjakan akan menjadi terbengkalai. Oleh karenanya, keep fighting for every condition ya Mom... J

Nah, itulah keenam tips dari saya, mungkin belum waktunya saya membagi tips ya, karena bisa dibilang saya ini mash sangat minim pengalaman dalam berumah tangga. Namun, ada kalanya saya hanya ingin berbagi pesan-pesan positif kepada para rekan sekalian, yang akan menjadi atau sedang menjadi ‘fresh wife’ seperti saya sekarang ini. Selain itu, juga sebagai reminder pada diri saya, yang terkadang belum pandai bersyukur juga hingga saat ini. Pada intinya, bersikaplah bijak pada setiap kondisi. Jangan terlalu banyak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Karena apa yang kau lihat belum tentu benar-benar hal yang terlihat. Tetap bersemangat dan berbagi hal yang positif serta lakukan yang terbaik. So, menjadi ‘fresh wife’, why not? 




14 komentar on "'Fresh Wife', Why Not?'"
  1. Setuju, fresh wife? why not
    karena kita walau di rumah masih bisa berkarya kok, dan masih bisa bahagia serta menjalankan hobi :)

    BalasHapus
  2. Mksh ya mbak tips nya. Bermanfaat bgt buat aku yg nantinya nggakbtau entah akan jdi house wife atau malah pekerja. Hehee

    BalasHapus
  3. Dan yg jomblo jdi baper ni. Huhuu

    BalasHapus
  4. Kak kenapa ini semua di bold....mata keselip ah

    BalasHapus
  5. Mira sudah merasakan housewife selama dua tahun mbk. Kalo suami bilang, enakan istrinya jadi housewife aja. biar selalu ada buat suami. haha

    tapi, sekarang mira cb dunia baru dulu, sebelum menjadi house wife yang lebih sempurna. hihi

    BalasHapus
  6. Mbak warna teksnya diganti dong, agak susah dibaca terutama saat pake hp.. hehe. Makasih udah sharing pengalaman mbak :D

    BalasHapus
  7. Asyik ya mbak jadi house wife, tapi ternyata ada cobaannya juga..

    BalasHapus
  8. House Wife sangat mulia. Banyak pahalanya. Semoga menjadi kebaikan dan surga menanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... iya Mbk, jika ikhlas mnjalaninya, ada surga yg menanti.. :)

      Hapus
  9. Asikkk! Fresh wife ya mbaaa istilahnya. Selamat menikmati masa-masa jadi istri ya mba. Aku masih nungguin masa-masa itu tiba. Doain yaaaa 😆

    BalasHapus
  10. Setiap kita pasti punya kisah sendiri ya mbak soal jodoh, pernikahan dan lainnya. Fresh wife menjadi momen terindah tersendiri. Semoga samawa selalu ya mbk

    BalasHapus
  11. Iya Mbk .. aamiin, makasih Mbk doanya.. 😊

    BalasHapus