Top Social

Beard Papa's, My Favorite Sus.

Senin, 03 September 2018

               
Salah satu outlet beard papa's
photo by google
                            Berawal dari menunggu antrian check in yang cukup lama di bandara, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sus beard papa’s yang memang sudah lama ingin dicicipi. Awalnya seringkali melihat orang-orang membawa bungkusan beard papa’s yang dibawa oleh orang-orang di bandara yang dijadikan sebagai oleh-oleh (buah tangan). Karena memang memliki hobi nge-meal ya otomatis saya penasaran dong dengan sus beard papa’s ini, tetapi ada keraguan, karena ditakutkan belum ada label halal yang tertera.
Label Halal MUI ada di beard papa's

                Keragu-raguan untuk mencicipi sus beard papa’s akhirnya sirna, di mana kehadiran label halal tersebut ternyata ada di depan outlet beard papa’s saat saya melewati outlet itu di pertengahan tahun beberapa bulan yang lalu di bandara Halim Perdana Kusuma. Saat itu saya sebenarnya ingin sekali mencicipi beard papa’s dengan varian rasa cheese (vla sus cheese), namun saat itu varian rasa tersebut kosong. Hanya ada varian sus vanila dan cokelat. Pilihan saya pun jatuh pada sus vanila beard papa’s dengan harga Rp 22.000,-/pcs. Ukuran beard papa’s sekitar satu kepalan tangan dengan isian vla sus yang lumer dan lezat. Selain itu, krim vla susnya terasa dingin saat dimasukkan ke mulut, sungguh yummy! Baru kali ini saya merasakan krim vla kue sus yang terasa dingin saat dimakan. Selain itu krimnya tidak terlalu manis dan juga royal (banyak). Sebagai penggemar kue sus otomatis worth it lah ya untuk mencicipi varian sus yang satu ini. Gak bakalan nyesel deh pokoknya! J
               
Keunikan dari beard papa’s
                Outlet-outlet Beard Papa’s tidak terlalu besar, kalau kita juga sering membeli Roti ‘O atau Roti Boy, kira-kira outlet Beard Papa’s tidak beda jauh ukurannya dari kedua outlet tersebut. Namun, untuk icon warna yang digunakan lebih dominan pada warna kuning dan putih dengan logo Kakek Berjanggut Putih dengan topi kupluk berwarna kuning. Berslogan ‘fresh ‘n natural cream puffs’, Beard Papa’s mengklaim tidak menggunakan bahan pengawet dalam setiap sajiannya. Untuk kulit susnya merupakan perpaduan resep choux pastry Perancis dan pie crust yang dipanggang setiap hari agar tersaji dengan segar. Oleh karenanya sus ini memang harus segera dihabiskan dalam satu hari, karena memang tidak menggunakan pengawet.
                Untuk vla susnya sendiri diisi (disemprotkan) di dalam kue susnya saat ada yang membeli, vla sus tersebut berasal dari wadah isian semacam dandang tinggi berukuran sedang yang berbahan stainless steel (semacam ceret pengisi vla sus yang terdapat besi di depannya sebagai corong pengisi vla). Jadi vla sus memang benar-benar fresh, karena baru diisi ke dalam kue sus saat ada yang membeli. Untuk kisaran harga dibanderol dari harga Rp 15.000,- -hingga Rp 39.000,- (harga disesuaikan dengan lokasi outlet, jika di bandara harga lebih mahal dari outlet di luar bandara). 
beard papa's 'fresh and original cream puffs'
                Varian rasa krim vlanya pun bermacam-macam, ada vanila, cokelat, keju, durian, greentea, nangka, kacang, kacang merah, strawberry dan masih banyak lagi. Beragam sekali bukan? Berbeda dengan sus-sus lainnya, yang terkadang hanya menyediakan varian rasa sus vanila dan keju saja.
Menikmati sus beard papa's varian vanila


Sejarah Beard Papa’s
                Berbicara tentang kue sus favorit, tidak ada salahnya toh berbicara tentang sejarahnya juga? Yup, karena sus yang pada awalnya berasal dari Jepang ini, memiliki  pembungkus kemasan yang unik. Desain kemasan cukup sederhana, hanya ada logo dari beard papa’s itu sendiri (kepala kakek berjanggut putih dan berkupluk kuning) dan tulisan produced by Mugihono since 1952.
                Awalnya saya mengira, beard papa’s ini diproduksi oleh orang Jawa, karena nama pencetus awalnya berawalan Mugi, namun ternyata saya salah besar. Mugihono merupakan seorang pengusaha yang berasal dari Jepang. Saat ini kue sus vla ini sudah memiliki 400 outlet di seluruh dunia (data April 2018) yang dioperasikan oleh Muginoho International, Inc yang berpusat di Torrance California.
                Wajar ya kalau misalnya kue sus Mugihono ini kian dikenal dari hari ke hari di hampir seluruh dunia, hal ini dikarenakan memang rasa yang disajikan di setiap susnya amat nikmat dan lezat, serta memiliki keunikan tersendiri saat disajikan. Pokoknya worth it banget deh... Ayook jangan lupa icip-icip ya...
Outlet Beard Papa’s yang ada di Jakarta dan sekitarnya.
Plaza Indonesia EX lantai 1, Jakarta Pusat
Telepon: 021-31900787

Mal Artha Gading lantai dasar, Jakarta Utara
Telepon: 021-45863852

Mall of Indonesia, Jakarta Utara
Telepon: 021-45868174

Mal Kelapa Gading 3 lantai 3, Jakarta Utara

Mal Pondok Indah South Skywalk lantai 2, Jakarta Selatan
Telepon: 021-45868174

Pacific Place, Jakarta Selatan
Telepon: 021-51402738

Central Park Mal lantai LG, Jakarta Barat

Tangerang City Mal lantai GF, Tangerang

Bandara Soekarno Hatta terminal 1A, 1B, 1C, 2D, 2F, 3
Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur.

Wajar ya kalau misalnya kue sus Mugihono ini kian dikenal dari hari ke hari di hampir seluruh dunia, hal ini dikarenakan memang rasa yang disajikan di setiap susnya amat nikmat dan lezat, serta memiliki keunikan tersendiri saat disajikan. Pokoknya worth it banget deh... Ayook jangan lupa icip-icip ya...


Tulisan ini dikembangkan dari sumber 
http://www.beardpapa.com/about.html
https://food.detik.com


               
               


'Fresh Wife', Why Not?'

Senin, 20 Agustus 2018

Photo by google.com
Hai... apa kabar? Semoga kita semua dalam suasana yang diberkahi Allah ya dan tentunya kita termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur. Kali ini, saya ingin sharing tentang kehidupan saya sebagai Fresh Wife a.k.a. kalau istilah saya sih istri yang masih ‘fresh’ gitu (he..he..), karena masih dalam hitungan bulan tentunya.
Nah, btw nih ya, untuk Mbak-Mbak atau Kakak-kakak yang belum menemukan jodohnya saya doakan semoga segera menemukan jodohnya. Semoga mendapatkan jodoh yang sholeh/sholehah dan tentunya bonusnya lagi kalau jodohnya sesuai kriteria ya, aamiin. Untuk yang belum meniatkan menikah, hayuk buruan diniatkan menikah, karena beribadah itu harus diniatkan dan diusahakan, intinya jangan putus berdoa dan selalu berprasangka yang baik pada Allah. Karena Allah itu Maha Pendengar doa-doa kita. Intinya nih ya, kalau syarat-syarat sudah terpenuhi, misal nih, sudah baligh, siap lahir dan bathin, nah tunggu apa lagi, ayoo.. diniatkan menikah. 

Fyi nih ya, waktu itu saya berniat menikah sekitar 4 tahun yang lalu dan baru menemukan jodoh di tahun ini. Tentunya perjalanan begitu berliku. Belum lagi sudah banyak teman-teman seumuran yang menikah, bahkan adik-adik tingkat saat kuliah pun sudah silih berganti mengirim undangan. Belum lagi, dua tahun setelahnya bukan lagi semacam rutinitas mendatangi undangan walimah, melainkan juga kunjungan kepada sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat yang telah melahirkan. Hummm,, antara senang dan sedih sih (he...), tetapi memang itulah yang harus dijalani. Belum lagi yang paling buat sedih adalah ketika sahabat-sahabat di berbagai komunitas sudah pada launching undangan, sementara saya masih saja di urutan teakhir (belum dipinang) dan akhirnya rela menjadi tamu undangan lagi (hu..hu..)

Sebenarnya untuk urusan lamar melamar, memang sudah ada yang hendak melamar sebelum-sebelumnya, namun apa mau dikata, hati belum bertemu jua dengan yang klik. Karena menurut saya kala itu dan hingga saat ini, ketika memutuskan menikah dengan seseorang, maka haruslah berdasarkan rasa cinta dan kagum, bukan karena paksaan atau pun pura-pura suka. 

Dan jawaban atas doa-doa panjang pun terjawab di tahun keempat penantian. Alhamdulillah prosesnya mudah dan tidak terlalu sukar. Seperti istilah ’mestakung’atau ‘semesta mendukung’, semuanya merestui, semuanya dimudahkan.
And finally, I am A Wife now....
But, its not a final, its just a new begin.... Perjuangan the real life baru saja dimulai.
................................................................
Okey, well, sekitar seminggu pascamenikah, saya hijrah ke Jakarta bersama suami. Tepatnya di Jakarta Barat, kawasan Palmerah. Lingkungan tempat kami tinggal berada di sekitaran lingkungan kampus Bina Nusantara. Di mana di lingkungan ini, kampus Binus terbagi menjadi tiga gedung, yakni Binus Anggrek, Binus Syahdan dan Binus Kijang. Ketiga gedung perkuliahan tersebut berjarak sekitar 1 hingga 3 km, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik angkot ataupun gojek. 

Seperti diketahui, kawasan Jakarta Barat adalah kawasan terpadat dibandingkan dengan kawasan Jakarta lainnya, sehinga jangan heran kalau tinggal di sekitaran sini, dari mulai kawasan elit hingga yang tinggal berdesak-desakan di gang-gang sempit pun ada di sini. Dari mulai kehidupan elit hingga kehidupan masyarakat menengah ke bawah pun ada di depan mata.

Seminggu tinggal di sini, saya masih merasa jet lag, namun lama kelamaan saya terbiasa dengan suasana. Okey, fyi nih, semenjak saya hijrah ke Jakarta Barat saya off dari aktivitas sebagai dosen dan kemudian memilih menjadi house wife untuk sementara waktu. Namun, kegiatan perkuliahan yang berkaitan dengan perkuliahan komunikasi masih tetap saya jalankan, di mana saya hingga tahun ini masih terctat sebaai salah satu tutor online di Universitas Terbuka untuk mata kuliah di prodi Ilmu Komunikasi. Perkuliahan online menjadikan saya hanya bisa melakukan konsultasi via online dengan para mahasiswa, tanpa bertemu mereka secara langsung, seperti yang biasanya saya lakukan dahulu.

Pada awalnya menjalani kehidupan sebagai housewife, ada rasa jenuh menimpa, terkadang saya kerap menangis tanpa alasan, bisa jadi karena jenuh, karena saya belum juga terlalu banyak mengenal orang-orang di sekitaran saya. Jujur, teman saya saat itu ya hanyalah suami saja. Sebenarnya sejak awal saya tinggal di sini, suami sudah mendorong saya untuk melamar menjadi dosen kembali, tetapi saya menolaknya, karena saya masih ingin beradaptasi dengan kehidupan Jakarta, ditambah saya dinyatakan positif mengandung tidak lama dari masa pernikahan kami. Alasan inilah yang kemudian menambah kebimbangan saya untuk tidak melamar pekerjaan dulu sementara waktu, karena saya ingin awal kehadiran bayi kami nanti, ibunyalah yang mengasuhnya bukan orang lain.

Terkadang ada rasa rindu pada suasana kampus dan kelas. Apalagi ketika melihat teman-teman angkatan saya mempelihatkan kelas dan mahasiswa mereka di sosial media, wah.. rasa-rasanya saya ingin kembali mengajar. Namun hingga saat ini, raga saya belum tergerak untuk melamar pekerjaan kembali karena ada hal baru lainnya yang akan saya didik nantinya, lebih dari sekedar mendidik mahasiswa.

Walaupun terkadang saya rasanya ingin marah pada segelintir orang yang kurang bijak, yang menyatakan bahwa ‘untuk apa berpendidikan tinggi, tetapi hanya di rumah saja,’ atau ‘jadi perempuan itu harus bekerja, iya kalau suamimu setia terus!’, atau ‘saya bangga bekerja sendiri, walaupun suami saya mapan, karena menurut saya perempuan itu harus mandiri’. Loh, lalu apa salahnya menjadi House Wife? Bukankah House Wife itu juga suatu pekerjaan? Di mana keutamaannya lebih tinggi dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya? Kalau menjawab pernyataan, ‘belum tentu suamimu itu nantinya selalu setia,’ tentunya hal ini menurut saya lebih lucu lagi, mengapa? Karena menurut saya rezeki Allah itu banyak dan luas. Dan berdoalah agar kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja, soal bagaimana nantinya, serahkan saja pada Allah. Jangan sampai alasan kita bekerja, hanya karena takut kehilangan sesuatu yang sudah dititipkan Allah pada kita.

Pilihan seorang wanita, menjadi house wife atau pun wanita karir sekali pun, itu adalah pilihannya masing-masing. Sebagai pribadi yang baik tentunya kita bisa bijak menilai. Tak usahlah menambah beban orang lain dengan penilaian-penilaian negatif kita, atau merasa bangga dengan apa yang telah kita kerjakan. Karena apa yang kita lihat, belum tentu seperti hal yang sebenarnya kita lihat. Jujur saja, saat masih aktif mengajar dahulu, saya memang pernah berceloteh, sepertinya enak menjadi Ibu Rumah Tangga saja, karena bekerja itu capek. Tetapi, saat saya mengalaminya saat ini, saya rasa-rasanya ingin kembali mengajar saja. Namun, qadar Allah, siapa yang bisa memastikan kehidupan yang akan datang, boleh jadi, takdir berkata lain, bisa jadi saya akan kembali bekerja, bisa jadi tidak. Tugas kita saat ini hanyalah, tetaplah berprasangka baik padaNya.

......................................................................................
Sekedar berbagi, bagi para 'Fresh Wife' yang kebetulan akan atau sedang menjalani kehidupan baru sebagai house wife, saya ingin berbagi beberapa hal untuk tetap menjadi Istri sholehah yang tetap strong and happy.

Pertama
Ikhlas. Jika dahulu kegiatan rutinitas adalah pergi ke tempat kerja dan kemudian pulang saat sudah petang, nah saat ini pekerjaan kita adalah mengurus rumah dalam waktu yang tidak terhingga. Namun segalanya harus tetap diniatkan dengan ikhlas, tanamkan di dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan ini bernilai ibadah, sehingga kita akan melakukan pekerjaan yang terbaik, walau hanya di rumah saja.

Kedua
Sangat membantu jika memiliki hobi memasak. Yakinlah, memasak mampu mengeluarkan kita dari kejenuhan-kejenuhan yang kita rasakan. Cobalah beragam resep baru yang sangat mudah ditemui saat ini melalui sarana media online. Tentunya memasak sendiri akan lebih sehat dan higienis. Selain itu, kita juga dapat menghemat pengeluaran dengan rutin memasak setiap hari.

Ketiga
Lakukan hal yang disuka ketika sedang senggang. Walaupun saya hobi memasak, tetapi saya juga memliki hobi kulineran. Nah, jadi jangan heran kalau pernah bertemu dengan saya yang suka makan sendirian di tempat makan. Kebetulan daerah tempat tinggal ada di sekitaran kampus, jadi banyak tempat-tempat kuliner yang bisa dicicipi. Tetapi ingat, hobi kulineran boleh, tetapi jangan sampai buat kantong bolong yah, ingat-ingat anggaran (he...). Selain kulineran, mungkin kita bisa melakukan hal menarik lainnya yang memang menjadi hobi kita, misalnya merawat tanaman, menyulam, menjahit, atau menulis.

Keempat
Ikutlah beberapa komunitas-komunitas yang bernilai positif. Menjadi Ibu Rumah Tangga bukan berarti kita harus melulu di rumah dan menyendiri ya. Tetapi kita juga tetap harus melakukan pengembangan diri dengan ikut dalam berbagai komunitas yang bernilai positif. Tentunya jenu dong ya kalau misalnya di rumah terus berhari-hari, berbulan-bulan. Nah, alangkah baiknya kita berhenti sejenak dari rutinitas di rumah dan bergabung dengan komunitas-komunitas positif. Selain memperluas pergaulan, kita juga mampu berbagi pengalaman dengan orang lain di komunitas tersebut.

Kelima
Sesekali lakukan relaksasi dengan berolahrga atau pergi ke salon. Jangan mentang-mentang di rumah saja, penampilan kita menjadi tidak diperhatikan lagi ya, kita harus tetap menjaga kebugaran dan juga kecantikan tentunya. Tidak perlu mahal loh, berolahraga dan rajin merawat diri secara di rumah juga dapat menjaga agar tubuh tetap bugar dan wajah tetap berseri-seri. Apalagi kita memiliki pikiran yang senantiasa positif, otomatis wajah akan kian berseri. Selain itu, kita juga ada baiknya sesekali pergi ke salon, memanjakan diri. Nah, caranya adalah, menganggarkan sedikit dari uang belanja yang diberikan suami, kalau belum cukup sebulan sekali, ya paling tidak dua bulan sekali kita udah bisa pergi ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan. Oleh karenanya, pintar-pintarlah mengatur anggaran pengeluaran dalam keluarga.

Keenam.
Tetaplah bersyukur apapun kondisi kita. Nah, ini yang paling terpenting, karena ketika kita bersyukur maka segalanya akan terasa ringan. Ketika jenuh datang melanda apalagi sampai meneteskan air mata, cepat-cepatlah beristighfar. Karena kondisi ketka kita merasa tertekan atau merasa kurang nyaman, akan berakibat pada seluruh hal yang seharusnya telah rampung dikerjakan akan menjadi terbengkalai. Oleh karenanya, keep fighting for every condition ya Mom... J

Nah, itulah keenam tips dari saya, mungkin belum waktunya saya membagi tips ya, karena bisa dibilang saya ini mash sangat minim pengalaman dalam berumah tangga. Namun, ada kalanya saya hanya ingin berbagi pesan-pesan positif kepada para rekan sekalian, yang akan menjadi atau sedang menjadi ‘fresh wife’ seperti saya sekarang ini. Selain itu, juga sebagai reminder pada diri saya, yang terkadang belum pandai bersyukur juga hingga saat ini. Pada intinya, bersikaplah bijak pada setiap kondisi. Jangan terlalu banyak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Karena apa yang kau lihat belum tentu benar-benar hal yang terlihat. Tetap bersemangat dan berbagi hal yang positif serta lakukan yang terbaik. So, menjadi ‘fresh wife’, why not? 




Kisah Tiada Akhir, Blogger Bengkulu (Bobe)

Kamis, 31 Mei 2018


Bobe. Ketika pertama kali meihat kata ini, aku terkenang postingan dua tahun lalu di timeline facebookku di mana kala itu ada pengumuman penerimaan anggota baru blogger Bengkulu (Bobe) yang akan dilaksanakan di Kota Bengkulu. Saat itu, tepat hampir satu bulan aku pulang kembali ke Bengkulu setelah merantau menempuh pendidikan selama 2,5 tahun di Kota Gudeg. Wah, tentu saja aku antusias melihat pengumuman ini, karena jujur saja aku rindu berkegiatan di komunitas. Hal ini dikarenakan, semenjak aku kembali ke Bengkulu, kegiatanku sehari-hari hanyalah mengajar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Kota Bengkulu. 

Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung menghubungi narahubung yang tertera di poster tersebut. Baiklah, setelah resmi mendaftar, aku tinggal menunggu waktu pertemuan itu, yakni hari Minggu tanggal 25 September 2016. Tentunya aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan orang-orang yang berada di komunitas tersebut. Karena menurutku, orang-orang yang memiliki hobi menulis itu adalah orang-orang hebat, orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Terlebih ketika hal yang ditulis adalah hal yang bermanfaat  bagi orang banyak.
...............
Hari yang dinanti pun tiba. Hari itu cuaca mendung, gerimis, kurang bersahabat memang. Sementara hari itu aku harus menggunakan sepeda motor untuk dapat sampai ke tempat pertemuan Blogger Bengkulu yang beralamatkan di toko Adiguna, Kampung Bali. Cukup jauh memang perjalanan yang harus aku tempuh, bayangkan saja, jarak antara Timur Indah hingga Kampung Bali (tempat lokasi toko Adiguna) seberapa jauhnya, mana harus ditempuh dalam kondisi hujan gerimis pula. Tetapi, itu bukan masalah, walau harus melawan kondisi jalanan licin, namun alhamdulillah, aku bisa sampai tempat tujuan dengan selamat.
Untungnya, pada saat aku datang, acara belum lama dimulai. Saat itu, Mbk Milda (Selaku ketua Bobe) baru saja memberikan sambutan. Mbk Milda menjelaskan bahwa menjadi seorang blogger itu adalah kegiatan yang mengasyikkan. Apalagi saat itu, kami semua diperkenalkan dengan salah satu blogger yang sudah cukup senior, di mana perjalanan menulisnya sangat menginspirasi kami semua.
Acara dilanjutkan dengan mengenalkan bagaimana membuat blog, membuat postingan tulisan di blog yang baik dan masih banyak lagi. Kali itu, kami langsung diperintahkan untuk membuat postingan tulisan tentang kegiatan yang berlangsung hari itu, dan tentunya  tulisan tersebut harus selesai pada saat itu juga. Waah, alhasil, tulisanku berisi semacam laporan kegiatan dan sedikit curhatan tentang diriku yang agak merasa bosan setelah kembali lagi ke Bengkulu karena kekurangan kegiatan, hehe.
Dan walhasil, hari itu adalah hari pertama aku resmi menjadi anggota Bobe (Blogger Bengkulu). Hmmm, walau jujur saja, setelah itu aku kurang aktif berkumpul kembali dalam pertemuan-pertemuan Bobe dan cukup vakum menulis. Hal ini dikarenakan bisa jadi karena aku kurang menyeriusi kegiatan blogger dan sudah mulai banyak jam mengajar yang jujur saja cukup menyita waktu. Ya.. sedikit cerita ya, di semester dua dalam periode mengajarku, saat itu aku dipercaya mengampu 10 mata kuliah. Yang di mana pengalaman paling amazing adalah saat ditugaskan di Lebong, yang jaraknya cukup jauh dari Kota Bengkulu. Saat mengajar di Lebong, aku pernah jam 9.30 malam masih di travel dalam perjalanan pulang Lebong-Bengkulu, sementara keesokan harinya aku harus mengajar di salah satu kelasku pukul 08.00! (eheem banget deh pokoknya!).
Memang sih, kalau kata Mbk Asma Nadia, salah satu penulis senior, bahwa urusan menulis itu no excuse, atau dalam artian tidak ada alasan loh untuk nggak nulis. Tapi ya namanya aku, tetap aja gitu-gitu aja, masih sering terbawa-bawa moody, nulis gak ya? Nulis gak ya? (mohon jangan ditiru ya!). Seharusnya nih ya, walau jadwal mengajar padat, sudah seharusnya aku harus meluangkan waktuku untuk tetap memposting tulisan-tulisanku di blog.
..................................
Tahun pun berganti, aku perhatikan Bobe sudah semakin maju, anggotanya semakin banyak. Aku jarang bergabung ke acara kopdar (pelatihan) Bobe bukan karena tidak mau, melainkan acara Bobe selalu saja bertepatan dengan waktu aku mengajar di UT (ya kalau tidak Sabtu, ya Minggu). Aku hanya bisa mengintip keseruan acara Bobe melalui akun instagran atau pun postingan-postingan kegiatan Bobe di facebook.
Walaupun jarang kopdar dengan anggota Bobe lainnya, aku sering loh menceritakan tentang Bobe dan asyiknya meulis lewat blog kepada mahasiswa-mahasiswaku. Mereka cukup antusias mendengarkan dan sering bertanya, “Bu, bagaimana agar bisa ngeblog juga?”. Aku pun menjawab sejelas mungkin pertanyaan mereka. Intinya aku katakan, “daripada nyetatus terus di timeline, lebih baik nulis yang bermanfaat di blog. Selain bermanfaat siapa tahu bisa jadi pendapatan.”
Nah, atas dasar banyaknya pertanyaan mahasiswa inilah, aku pun berinisiatif ingin mengadakan semacam kuliah umum tentang blogger. Intinya, aku ingin mengenalkan aktivitas blogger kepada para mahasiswa. Agar mereka bisa kritis secara baik, tidak asal-asalan dan lebih beretika. Kebetulan, saat itu aku dipercaya menjadi salah satu pembina mahasiswa Hima di salah satu Universitas di tempatku mengajar, aku pun memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini kepada Ketua Prodi. Singkat cerita, Kaprodi setuju dengan ideku. Hal yang sempat diragukan Kaprodi adalah, apakah event ini akan benar-benar terlaksana? Mengingat waktu itu adalah H-14 acara pernikahanku. Aku memberanikan diri untuk berpositif thinking saja, karena apapun itu, jika niatnya baik, insyaAllah akan baik juga.
Salah satu souvenir
untuk pemateri Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future

Berpose bersama Panitia Kuliah Umum
Smart Blogger for Better Future
Dan alhamdulillah, walaupun persiapan acara kurang dari satu bulan dan proposal baru disetujui H-3, namun sesuai dengan niatku acara itu berlangsung sukses dan meriah, dihadiri lebih dari 150 peserta dari kalangan mahasiswa yang ada di berbagai universitas di Kota Bengkulu. Aku selaku ketua panitia saat itu cukup bersyukur, karena di akhir masa-masaku menjadi dosen di Universitas tersebut (karena usai menikah aku resign dan mengikuti suami hijrah ke luar Bengkulu), aku bisa berbagi dengan yang lain tentang apa sebenarnya blogger itu. 
Ramainya peserta Kuliah Umum Bersama Bobe
Smart Blogger For Better Future

Tentunya, saat itu aku mengajak para pengurus Bobe untuk menjadi pengisi acara di event dengan tema, ‘Smart Blogger for Better Future’. Di mana pemateri saat itu adalah para Blogger-blogger kece dari Bobe, yakni Mbk Milda, Mbk Ria Fasha dan Kak Pieter Julius. Para pengisi acara begitu semangat memberikan motivasi kepada para mahasiswa, agar nantinya dapat menjadi seorang blogger yang aktif dan bermanfaat.


Bersama para admin Bobe di acara Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future
di kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu

http://www.bloggerbengkulu.com/

Demikianlah sedikit ceritaku selama menjadi blogger di Kota Bengkulu. Sebenarnya masih banyak kisah menarik dan seru yang ingin aku ceritakan, tetapi kali ini cukup sekian dulu ya. Intinya kalau bercerita tentang Bobe, tentu tidak akan ada habisnya. Akhir kata, aku ingin berpesan, semoga kita kian semangat menebar kebaikan melalui tulisan-tulisan yang kita bagikan. Salam.

Menanggapi Perbedaan

Senin, 28 Mei 2018
Photo by Google

Dalam menjalani kehidupan ini sudah pasti kita akan menemui beragam perbedaan, baik perbedaan dalam keyakinan, cara pandang maupun perbedaan dalam menjalani kehidupan. Tentunya dalam hal ini, kita perlu mawas diri, bahwa setiap perbedaan yang ada adalah sunnatullah dari Allah SWT yang akan terus ada hingga akhir hayat ini.

Beberapa perbedaan tersebut tentunya akan membawa warna-warna dalam kehidupan. Ada kalanya, orang banyak yang berkeluh kesah, mengeluh bahkan cenderung tidak menerima dengan adanya perbedaan tersebut. Tak ayal banyak terjadi perdebatan berkepanjangan, saling menyalahkan bahkan terjadi penghakiman yang cenderung tidak adil atas cara pandang memandang perbedaan yang ada.

Adanya ketidakseimbangan dalam menghadapi perbedaan inilah yang perlu kita hindari. Hal ini dilakukan agar kehidupan kita akan tetap seimbang, baik secara jasmani maupun rohani. Agar tidak ada perpecahan yang kemudian menimbulkan stigma-stigma negatif di dalam kehidupan.

Jika berkaca pada kehidupan era saat ini, kemunculan stigma negatif akan suatu hal dapat sangat kentara terlihat. Bayangkan saja, setiap hal kian transparan terlihat, di mana era saat ini kita kenal degan era digitalisasi, di mana kita bisa menilai seseorang dengan hanya mengikuti setiap timeline yang ada di media sosialnya. Kita juga bisa menilai, bagaimana individu tersebut menanggapi setiap perbedaan yang ada, dengan hanya melihat aktivitas yang sering dilakukannya dengan fasilitas-fasilitas dunia maya yang tersedia. Toh, secara tidak langsung kita dapat belajar secara bijak, jikalau apa yang ditanggapi tersebut memuat pesan positif, kita dapat mendapatkan suatu hal yang membawa kita pada pola pikir yang positif. Lalu bagaimana jika yang kita dapatkan itu justru sebaliknya? Acapkali kita senantiasa membaca timeline yang tentunya selalu membawa kita pada pikiran yang negatif, alih-alih ingin bertenggang rasa dengan perbedaan yang ada, justru kita malah semakin setuju akan penciptaan negatif pada suatu kelompok atau suatu hal yang menurut kita kurang sesuai. Dalam hal ini, tentunya kita dapat menciptakan suatu bentuk gatekeeper tersendiri pada diri kita. Di mana kita dapat menjadikan stimulus-stimulus di dalam otak kita untuk tidak serta merta mengikuti dan menyetujui stigma negatif tersebut.
                Lalu, bagaimana cara menanggapi perbedaan yang ada? Baiklah saya akan mencoba sharing tentang pengalaman saya dalam menanggapi perbedaan yang selama ini saya alami.

1.       Selalu berpikir positif atas perbedaan yang ada
Para pakar ahli kesehatan dan ahli psikologi, selalu saja menyampaikan pesan kepada para pasien atau kliennya agar selalu memiliki pikiran yang positif akan beragam hal yang ada. Oleh karenanya, jika kita menghadapi sebuah perbedaan dalam kehidupan, kita pun harus berpikiran positif. Lalu, bagaimana jika ada individu atau sekelompok orang yang senantiasa memaksakan pendapatnya agar kita mau mengikuti pendapat atau saran mereka tersebut. Nah, lagi-lagi kita harus tetap mawas diri dan menjadi gatekeeper bagi diri kita sendiri. Jika menurut kita kurang sesuai saran atau pendapat tersebut, kita bisa menyampaikan penolakan secara baik-bai, dengan tetap menggunakan kalimat yang santun. Tidak perlu kita justru saling beradu pendapat, berdebat kusir, sehingga menjadikan suasana semakin terlihat absurd dan kacau. Tidak perlu merasa yang paling benar dan banyak ilmu. Karena seorang pribadi yang baik adalah seseorang yang mampu menahan dirinya ketika tersulut perdebatan. Atas dasar inilah, kita seharusnya juga dapat mengambil suatu pembelajaran, bahwa kita tidak boleh memaksakan apa yang kita pahami dan pikirkan kepada orang lain, sekali pun itu keluarga dekat kita.

2.       Pelajari terlebih dahulu hal yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.
Saya pernah berada dalam kondisi pertemanan yang begitu berbeda dalam memandang kehidupan, khususnya dalam menanggapi perbedaan cara pandang menjalankan perintah agama. Terkadang mereka seringkali ekstrim dalam menanggapi perbedaan tersebut. Tentu saja saya yang notabene kurang menerima pendapat mereka tersebut sempat ‘merasa panas’ dan rasanya ingin segera pergi dari pertemanan tersebut. Namun hati kecil saya selalu berkata, ‘Untuk apa pergi dari mereka? Toh mereka adalah saudaramu, mereka adalah partner hidupmu’. Oleh karenaya, untuk saat itu dan hingga saat ini, saya akan berusaha diam jika mereka berpendapat ekstrim akan suatu hal, khususnya dalam hal menjalankan perintah agama. Jikalau mereka berpendapat di depan saya langsung, maka saya akan menjawab, ‘tolong jangan bahas tentang bagaimana cara seseorang menjalankan agama, karena itu sensitif, ada baiknya kita membahas yang lain.’ Jikalau sudah seperti itu jawaban saya, biasanya mereka mereda sendiri dan kami kembali berdiskusi hal lain yang lebih luwes untuk didiskusikan. Dan hingga saat ini, hubungan pertemanan kami masih sangat baik.
Tentunya saya memaklumi juga apa yang seringkali mereka lontarkan, hal ini dikarenakan saya juga cukup tahu mereka berasal dari latar belakang keluarga dan budaya yang bagaimana, sehingga secara tidak langsung akan memengaruhi pola pikir mereka akan sesuatu.

3.       Perbanyaklah pergaulan dengan siapa pun.
Jika kita memiliki banyak teman dan cenderung tidak menutup diri, maka kita akan dapat mempelajari beragam karakter yang dimiliki oleh orang lain. Tentu saja bukan hanya karakter, tetapi kita juga bisa memahami budaya dan cara pandang mereka. Pengalaman saya, saya pernah ditemukan dengan dua orang dokter spesialis perempuan yang memiliki karakter yang cenderung membuat saya terkaget-kaget dengan cara mereka menghadapi pasien. Dokter pertama cenderung tidak mau banyak ditanya akan sesuatu hal yang mendetail. Justru dokter tersebut menyatakan bahwa saya yang harus lebih banyak membaca dan mencari informasi jika ingin lebih banyak tahu. Sontak saya kaget dan kesal. Namun, ketika saya pikir-pikir ulang ya mungkin memang sudah karakter Dokter ini seperti ini. Sementara Dokter yang kedua, cenderung menggunakan bahasa sapaaan ‘Loe-gue-loe gue’ dan cenderung blak-blak’an dan kekeuh mempertahankan pendapatnya. Sementara saya pun sebenarnya kekeuh juga menyampaikan riwayat kesehatan saya. Jadi terdapat kesalahan informasi di lembar pendaftaran tentang riwayat kesehatan saya, sementara sang Dokter kekeuh mempertahankan catatan tersebut. Hingga akhirnya, di akhir diskusi kami, kesimpulan yang diambil adalah pendapat saya. Tentunya saya kaget juga diperlakukan seperti itu oleh seorang Dokter, namun lagi-lagi saya berkata dalam hati, mungkin memang sudah karakter dan pembawaannya seperti itu. Toh Dokter ini lebih mendetail walau sedikit blak-blakan. Dan tentunya, ketika kita telah memiliki banyak pergaulan, kita cenderung lebih mudah memaafkan beragam perbedaan yang ada.

4.       Selalu Ada Hikmah dalam Perbedaan
Apapun yang ada dan terjadi adalah Qadarullah (ketetapan Allah). Semua yang kita lalui adalah suatu hal yang sudah ditetapkan dan ada hikmah yang dapat dipetik dari sana. Adanya beragam polemik yang kita lihat terjadi di negeri ini, yang tentunya salah satu penyebab kehadirannya karena adanya perbedaan, juga pasti terjadi karena memang sudah menjadi qadarullah. Nah, tugas kita adalah tetap menjadi bijak dalam menanggapi setiap hal yang ada. Jangan justru turut memperkeruh suasana dengan melemparkan pendapat-pendapat negatif atas terjadinya suatu polemik. Ada baiknya kita melakukan tugas kita dengan baik dan menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Akan lebih baik lagi jika kita mampu memberikan solusi dan berperan aktif untuk menyelesaikan polemik tersebut.

Perbedaan, tentunya menjadi suatu hal yang indah jika kita mampu menyikapinya dengan baik. Bijak dalam menjalankan peran, bijak dalam menghadapi setiap hal yang ada. Lalu, untuk apa mengeluhkan perbedaan yang ada? Untuk apa merasa tidak suka dengan adanya perbedaan? Okey... mulai sekarang positiflah dalam menanggapi perbedaan yang ada. 😊😊😊





Berkenalan lebih dekat dengan Osteoporosis

Kamis, 17 Mei 2018

Photo by Google
‘Osteoporosis’, apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata tersebut? Ya, tentunya osteoporosis sangat berhubungan dengan tulang tentunya. Di awal ramadhan 1439 H, selain wajib menambah aktivitas ibadah harian, kita juga wajib menjaga asupan makanan yang kita konsumsi. Salah satunya adalah kalsium. Mengapa kasium penting? Ya tentu saja, jika asupan kalsium di dalam tubuh cukup, maka tulang akan menjadi kuat dan beribadah pun akan menjadi kian bersemangat dan tanpa kendala.

Saya dan Osteoporosis.
Saat masih menggunakan kruk di tahun 2015.
Sebelum melangkah lebih jauh membahas mengenai osteoporosis, saya akan menceritakan tentang kondisi saya beberapa tahun yang lalu (lebih tepatnya dua tahun lalu). Saya adalah seorang penderita osteoporosis di usia muda. Hal ini terdeteksi setelah saya mengalami kecelakaan motor yang cukup parah, yang mengharuskan saya menjalani operasi fraktur femur (patah tulang paha kanan). Ternyata, kondisi saya saat itu bukan hanya patah tulang biasa, melainkan tulang paha saya hancur berkeping, hal ini diakibatkan benturan sepeda motor yang cukup keras dan kondisi tulang saya yang rapuh. Sejak saat itu, saya melewati beberapa pengobatan tulang yang tentunya berlangsung lama. Jika orang lain bisa pulih dan berjalan normal, hanya dalam hitungan 6 bulan atau paling lama satu tahun, saya justru baru bisa berjalan normal setelah 1,5 tahun (namun dengan catatan, hingga hari ini saya tidak bisa lagi berlari seperti sedia kala).
Saya pernah didiagosis untuk operasi ulang, setelah menjalani 8 bulan pascaoperasi awal. Hal ini dikarenakan kondisi tulang saya yang tidak ada perkembangan signifikan. Oleh karenanya, saat itu, Dokter-Dokter residen yang ada di Rs. Sardjito (Yogyakarta), berkesimpulan untuk mengoperasi ulang tulang paha saya dan saya harus mengulang terapi pengobatan sejak awal. Saya tidak bisa membayangkan hal itu terulang kembali, karena pascaoperasi, saya sangat bergantung pada orang lain dan gerakan tubuh saya amat terbatas. Sungguh membosankan dan acapkali membuat stres, jika harus membayangkan hal tersebut terulang kembali. Oleh karenanya saya pernah berujar pada para dokter residen tersebut, “Dok, jika saya dioperasi kembali, apakah saya harus menjalani cuti kuliah kembali? Lalu bagaimana dengan tesis saya? Kapan selesainya?,” saya bertanya dengan kondisi yang cukup bingung saat itu. Salah satu perwakilan dari residen tersebut menjawab, “Sampeyan mau sembuh kaki atau mau memikirkan kuliah? Kalau itu sih terserah sampeyan, cuma saran kita lebih baik dioperasi kembali, nanti kami akan menanamkan semacam serbuk ke tulang Anda, di mana serbuk tersebut fungsinya untuk mempercepat tumbuhnya kalus pada tulang Anda.” Sontak saya kaget dan agak marah mendengar pernyataan salah satu residen tersebut, dengan beraninya, saya menjawab,”Oke baiklah Dok, mungkin saya akan tetap memilih melanjutkan kuliah dan mengerjakan tesis, untuk urusan kaki ini, toh ada keajaiban tentunya, permisi dan terima kasih.”
Menurut saya, jawaban dokter-dokter residen tersebut bukanlah solusi. Toh, mereka masih residen di RumaH Sakit ini, belumlah menjadi Dokter spesialis Orthopedi yang sesungguhnya. Mereka masih berstatus menempuh pendidikan spesialis orthopedi. Berani-beraninya mengambil kesimpulan seperti itu. Usai hari itu, masih dengan menggunakan dua tongkat kruk, saya pun meminta teman saya untuk mengantarkan saya ke Rumah Sakit Panti Rapih (sebuah RS.Swasta, yang letaknya tidak jauh dari RS.Sardjito). Di sana saya dipertemukan dengan dokter spesialis orthopedi yang cukup melegakan, di mana saya tidak perlu dioperasi kembali, jika kondisi tulang saya membaik dalam jangka waktu tiga bulan, dengan catatan saya wajib mengkonsumsi obat yang diperuntukkan bagi orang tua yang terkena osteoporosis. Sejak saat saat itulah saya menyadari, bahwa saya adalah penderita osteoporosis di usia muda.
Namun, syukur alhamdulillah, sekitar 1,5 tahun pascaoperasi awal, saya sudah bisa berjalan seperti biasa kembali. Saya pun bisa menyelesaikan studi saya, tanpa kembali melakukan operasi kembali. Dan tentunya, untuk urusan tidak bisa berlari kembali, saya maklumi, karena segala sesuatu yang Allah berikan pada kita, terdapat masanya, di mana, setiap hal akan dikembalikan pada Allah. Kita hanya sebatas dititipkan saja.

Mengapa terkena osteoporosis?
Secara pribadi, saya memang orang yang jarang olah raga, tidak suka mengkonsumsi susu, dan memiliki garis keturunan osteoporosis dari garis keturunan Nenek. Nah, beberapa hal tersebut adalah pemicu hadirnya osteoporosis.
Mengutip pernyataan Prof.Dr.Errol Untung Hutagalung, SpB, SpOT-K dalam buku Osteoporosis di Usia Muda, osteoporosis merupakan suatu penyakit pada tulang yang ditandai dengan kondisi di mana terjadi penurunan massa tulang dan perubahan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi tipis, rapuh, keropos, dan mudah patah.
Berdasarkan pernyataan Prof.Erol, maka kondisi orang-orang yang terkena osteoporosis, tentunya tidak akan mampu untuk beraktivitas secara bebas dan normal kembali seperti sedia kala. Hal ini dikarenakan kondisi tulang yang mengalami penurunan massa, sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh, keropos serta mudah patah. Hal ini dapat dipastikan juga akan menimbulkan nyeri pada bagian tulang sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.
Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, mengenai faktor yang menyebabkan terkenanya osteoporosis, maka hal lain yang dapat memicu terjadinya osteoporosis adalah mengkonsumsi kafein secara berlebihan, seperti konsumsi teh dan kopi secara berlebihan, mengkonsumsi MSG dan makanan dengan kadar garam tinggi secara berlebihan juga mampu menjadikan tubuh mengeluarkan kalsium secara berlebih. Padahal, kalsium amat dibutuhkan bagi kesehatan tulang.
Diet yang terlalu ketat juga mampu menjadikan faktor terkenanya osteoporosis di usia muda. Karena diet berlebihan, tentunya asupan gizi di dalam tubuh pun menjadi berkurang termasuk kalsium. Selain itu, merokokk juga menjadi salah satu pemicu hadirnya osteoporosis.

Tips agar terhindar dari osteoporosis
1                 1.      Jika Anda merokok, maka berusahalah untuk berhenti merokok dari sekarang.
2.  Perbanyak mengkonsumsi kalsium, khususnya yang berasal dari susu, sayur-sayuran berwarna hijau pekat dan kacang-kacangan. (jika perlu, ada baiknya mengkonsumsi suplemen kalsium).
3.      Kurangi mengkonsumsi kafein serta MSG.
4.    Jangan remehkan cahaya matahari pagi, berusalah untuk berjemur saat pagi hari, dibarengi dengan berolahraga akan lebih baik.
5.  Khusus bagi wanita, perhatikan gizi anak sejak dalam kandungan, terkhusus penuhi kebutuhan kalsium anak sejak dalam masa kehamilan.
6.    Hindari gaya hidup tak sehat, misal terlalu banyak konsumsi kafein, merokok dan meminum alkohol.
7.     Hindari diet secara berlebihan.
8.     Lakukan aktivitas fisik secara berkala (jangan malas bergerak!), biasakan berjalan kaki.
9.     Lakukan pemeriksaan kesehatan tulang sejak dini. 
Photo by Google
Okey, sehat itu memang butuh usaha ya... Jangan sepelekan urusan kesehatan tulang, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga artikel dan sharing ini bermanfaat Ada baiknya, kita menjaga kesehatan tulang sedini mungkin.

Ayo, mulai hidup sehat sejak saat ini. Ramadhan berkah dengan tulang yang sehat dan kuat!
                                                                       
*Beberapa hal tentang osteoporosis dalam artikel di atas, 
dirangkum dari buku ‘Osteoporosis di Usia Muda dari Holistic Health Solution terbitan Grasindo tahun 2011.