Top Social

Amazing Lombok (Jangan Lupa Berpetualang)

Minggu, 04 Agustus 2019

Berpetualanglah, berpetualanglah seumur hidupmu.
Melangkahlah, hingga akhirnya engkau tersenyum bahagia.
Keluarlah, karena banyak sekali yang harus kau lihat di luar sana.


Sunset di Gili Trawangan


               November, 2014. Saat itu adalah waktu yang menyisakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Hingga kini kenangan nyaris 5 tahun lalu tersebut masih sangat nyaman untuk dikenang, membahagiakan, ya membahagiakan.

                Saat itu, aku tercatat sebagai salah satu mahasiswi pascasarjana di UGM. Ada pamflet yang disebarkan melalui media sosial facebook dan WA yang isinya tentang pengumuman konferensi nasional ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia) di Lombok. Awalnya aku hanya menyimpan ingin saja berangkat ke sana, karena seolah,  tak mungkin ingin menginjakkan kaki ke tanah Lombok, mengingat biaya akomodasi yang cukup besar untuk dapat tiba di sana.
                Namun keinginanku ternyata bukan sekedar keinginan. Salah satu temanku bercerita bahwa untuk dapat pergi ke Lombok mengikuti sebuah konferensi ilmiah bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan pihak UGM akan memberikan semacam dana bagi mahasiswanya ntuk dapat pergi konferensi dengan catatan membawa nama UGM, khususnya membawa nama Departemen Ilmu Komunikasi UGM. Wah, tentunya aku menyambut bahagia kesempatan ini. Saat itu otakku sibuk memikirkan tema apa yang akan aku kirimkan untuk mengikuti konferensi ini. Masalah biaya tidak terlalu kupikirkan, karena menurutku itu urusan belakangan (PD sekali ya, hehe, seperti yang punya kemampuan finansial saja, wkwk).
                Singkat cerita, aku bersama 6 orang temanku berhasil mendapatkan bantuan dari UGM untuk pergi ke Lombok mengikuti konferensi nasional ISKI. Masing-masing dari kami diberi uang saku satu juta Rupiah per orang. Memang uang itu belum cukup untuk tiba sampai Lombok, namun menurut kami itu sudah cukup membantu. Lagi-lagi urusan finansial, untuk aku pribadi saat itu aku meminta kepada Bapakku dan alhamdulillah nominal yang aku ajukan disetujui oleh Bapak.


*Keberangkatan Ke Lombok
Saat itu pagi hari, jam 6 pagi kami berenam sudah berkumpul di stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Kami menaiki kereta api ekonomi untuk dapat tiba di stasiun Banyuwangi. Perjalanan hampir 14 jam kami tempuh. Jika sudah bosan duduk maka kami bercanda, saling mengganggu satu sama lain. Kadang juga kami sibuk mengomentari penumpang lain, agar suasana menjadi ceria dan cair. Aku cukup menikmati perjalanan, hanya saja aku terkendala jika ingin ke kamar kecil, hal ini dikarenakan kereta api ekonomi tidak terlalu memperhatikan kebersihan toilet yang berada di dalam kereta. Oleh karenanya, aku harus turun di saat kereta transit di beberapa stasiun dan bergegas naik kereta dengan terburu-buru agar tidak ketinggalan.
Sekitar jam 9 malam kami tiba di Banyuwangi. Kami membersihkan badan kami di toilet stasiun kereta api Banyuwangi Baru yang merupakan stasiun yang terletak di wilayah paling timur Banyuwangi (Jawa Timur). Setelah usai membersihkan diri kami pun bergegas menuju pelabuhan feri Ketapang untuk menuju ke Pulau Bali.  Jarak antara stasiun dan pelabuhan feri hanyalah 100 meter, sehingga kami hanya berjalan kaki untuk tiba di sana.
Perjalanan dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) menuju pelabuhan Gilimanuk (Bali) tidak terlalu memakan waktu yang lama, kurang lebih 45 menit perjalanan. Tiba di Gilimanuk (Bali) sekitar jam 12 malam waktu Bali (WITA). Saat itu temanku merekomendasikan kami untuk menaiki Bus ekonomi menuju pelabuhan Padang Bai (Bali) menuju pelabuhan Lembar (Lombok). Jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 4 jam perjalanan. Kami pun tidak langsung mendapatkan bus, karena jadwal keberangkatan bus ada pada pukul 02.00 WITA dinihari. Oleh karenanya kami menunggu hampir dua jam di terminal Bus dekat Pelabuhan Gilimanuk. Sembari menunggu, kami berenam memesan pop mie kuah untuk mengganjal perut kami yang lapar.
                Tepat pukul 02.00 WITA kami pun menempuh perjalanan. Bus ekonomi yang tidak terlalu bagus menurutku. Kondisi bus hampir rata karatan, bunyi engsel tempat duduk yang berdenyit-denyit menambah ngilu perjalanan kami. Terkadang juga tak berhenti dilewati oleh orang yang lalu lalang silih berganti turun naik bus. Aku berusaha untuk tidur, karena aku cukup kelelahan saat itu. Sementara temanku di sebelah tempat dudukku, dengan sangat terpaksa meladeni obrolan bapak-bapak paruh baya yang tidak berhenti mengajaknya mengobrol.
               

Saat di atas kapal Feri menuju Lombok
                                                                      Pukul 05.30 wita kami tiba di pelabuhan Padang Bai. Kamipun bersiap menuju pelabuhan Lembar (Lombok) dengan menaiki kapal feri kembali. Aku yang cukup lelah berusaha untuk tetap kuat. Setelah membersihkan diri secukupnya di toilet pelabuhan, kami pun kembali menaiki kapal.
Cuaca pagi itu cukup cerah, kami dengan ceria menaiki kapal. Sesekali kami berfoto, bercanda ria sambil menikmati suasana di atas laut menuju Pulau Lombok.
               

Menjelang zuhur, kami tiba di Pelabuhan Lembar (Lombok). Dengan menaiki travel, kami menuju kota Mataram. Kami berencana akan menginap semalam di rumah milik teman kosku di Yogya. Beliau berbaik hati mengizinkan kami menginap di rumahnya walaupun beliau ada di Yogya. Kami menginap di rumah temanku hanya semalam saja, sementara keesokan harinya kami sudah harus pergi ke hotel tempat kami akan mengikuti konferensi nasional ISKI.
             

        ****


 Taman Narmada
Saat tiba di hotel, kami diajak oleh dosen kami yang kebetulan ikut konferensi juga untuk mengunjungi taman Narmada yang terletak di Lombok Timur tidak jauh dari Kota Mataram. Suasana taman amatlah indah dengan suasana yang amat asri. Taman ini amat kental dengan kebudayaan Hindu. Pemandangan taman amatlah indah, terdapat kolam yang amat jernih dengan pemandangan yang hijau. Di dalam taman juga terdapat tempat suci, di mana di dalam tempat tersebut, terdapat mata air, yang mana mata air tersebut dipercaya dapat membuat awet muda jika digunakan untuk mencuci muka oleh pengunjung yang berkunjung.

Taman Narmada yang asri dan hijau




Menikmati Jagung Bakar malam hari di Pantai Senggigi
                Pantai Senggigi memiliki romantika tersendiri. Perpaduan antara pantai dan hijaunya pepohonan menjadi satu ciri khas yang amat indah. Birunya laut dan hijaunya hutan menyatu tanpa batas, sungguh indah.
                Keindahan Pantai Sengigi juga tak dapat dielakkan saat malam hari, walau keindahan yang diberikan ditopang oleh meriahnya kerlip lampu. Saat itu, kami berkesempatan untuk menikmati malam di Pantai Senggigi sambil menikmati jagung bakar di pinggir pantai. Kami asyik bercerita dan berbagi pengalaman, sungguh menyenangkan tentunya.
               

Wisata Kuliner Ayam Taliwang
                Tak lengkap rasanya pergi ke Lombok tanpa menikmati ayam Taliwang. Rasa ayam panggang yang gurih beserta bumbu yang khas. Disertai dengan sambal terong mentah yang tentunya menggugah selera. Lengkaplah sudah kenikmatan kami dijamu oleh Kota Mataram saat itu.



****


Gili Trawangan
Belum bisa dikatakan pergi ke Lombok, kalau belum mengunjungi Gili Trawangan. Karena kami berenam menggunakan konsep backpacker dalam perjalanan kami, maka usai berjalan-jalan dengan menggunakan fasilitas yang diberikan oleh ISKI, maka kami memutuskan untuk menginap di Gili Trawangan satu malam. Kami menyewa semacam motel dua tingkat dengan tiga kamar. Kami berenam ditambah tiga orang teman lainnya yang juga mahasiswa UGM berencana untuk melaksanakan snorkeling keesokan harinya di Gili Trawangan.
Sebelum malam tiba, kami berencana untuk menikmati sunset di Gili Trawangan. Sungguh sangat indah pemandangan yang ditawarkan di Pulau ini. Tentunya hal ini didukung juga dengan fasilitas pariwisata yang bertaraf internasional.
Sungguh pemandangan sunset yang indah. Karena waktu itu suasana sedang surut, maka aku beserta kedua orang temanku memberanikan diri untuk pergi ke tengah pantai yang jaraknya cukup jauh dari daratan. Sungguh indah, benar-benar indah.

Sunset yang indah di Gili Trawangan


Malam tiba, kami pun me,bersihkan diri kami dan berencana melakukan perjalanan tour berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Sungguh menyenangkan, kami mengitari pulau Gili Trawangan dengan menggunakan sepeda. Suasana di depan Pulau amat ramai. Usai azan isya dikumandangkan dan usai sholat isya dilaksanakan, suasana Gili Trawangan berubah menjadi semcam Pulau yang dipenuhi bar. Suara music keras-keras diperdengarkan, ada banyak sekali minuman keras diperjual belikan. Turis-turis asing berhamburan keluar dengan gaya-gaya mereka yang aduhay. Jujur saja, aku sama sekali melihat suasana ini seperti bukan lagi di Indonesia.

Sebelum Bersepeda Berkeliling Gili Trawangan di malam hari.

Sementara itu, kondisi di belakang Gili Trawangan sangatlah sepi. Memang masih banyak terdapat penginapan semacam motel bergaya khas nan mewah, namun suasananya lebih nyaman dan tenang. Usai bersepeda, temanku mengajakku ke salah satu club bar bermusik reggae. Aku sangat penasaran tentunya, walaupun saat itu aku menggunakan gamis dan jilbab cukup panjang, namun aku memberanikan diri untuk masuk club reggae tersebut. Di dalam club orang-orang banyak yang merokok dan meminum minuman keras, mereka juga banyak yang berjoget-joget menikmati musik reggae. Aku pun penasaran, aku mengamati sekitar, sungguh benar-benar di luar batasan, kondisi club malam bukanlah tempat yang recommended untuk dikunjungi.

Berpose sebelum Snorkeling




Salah satu sudut Gili Trawangan yang amat eksotis


Keesokan harinya, sekitar jam 10.00 pagi kami snorkeling. Laut Lombok sangatlah indah untuk dinikmati, selayaknya aquarium besar, sangat indah. Aku yang tak bias sama sekali berenang memberanikan diri masuk ke dalam laut lepas, tentunya dengan menggunakan pelampung. Saat itulah pertama kali aku berhasil melihat kura-kura laut yang berenang bebas di dalam laut. Dan juga ada sekumpulan ikan kecil berwarna biru yang kerlap-kerlip menyusun formasi indah di bawah laut. Sangat membahagiakan, so amazing!.






Pentingnya Literasi Media melalui Budaya Sensor Mandiri

Selasa, 02 Oktober 2018

Blogger Bengkulu (Bobe) bersama Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia pada hari Rabu, tanggal 26 September 2018 menggelar Talk Show dengan tema ‘Budayakan Sensor Mandiri’. Adapun narasumber yang dihadirkan yakni, Ibu Mildaini, S.Pd., yang merupakan ketua Blogger Bengkulu (Bobe) serta Ibu Noor Saadah, M.Ikom., beliau merupakan perwakilan dari Lembaga Sensor Film Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi II, Bidang Hukum dan Advokasi. Acara ini dilangsungkan di The Fellowship of Konakito sebuah cafe yang mengusung suasana outdoor yang berlokasi di pinggir Pantai Tapak Paderi Bengkulu (berdekatan dengan Benteng Malborough, Bengkulu).
            Tentunya acara ini menarik untuk saya datangi, hal ini dikarenakan tema yang diusung merupakan salah satu tema yang menarik dalam bidang komunikasi, mengingat saya merupakan alumni komunikasi yang sudah lebih dari lima tahun mengkaji dan mempelajari mengenai beragam hal yang berkaitan dengan komunikasi dan media massa. Selain itu, acara ini digelar gratis bagi 100 pendaftar dan merupakan momen pertama bentuk kegiatan LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia yang diadakan di Bengkulu.

Trend Gaya Nonton di Indonesia dan Pentingnya Budaya Sensor Mandiri Khususnya bagi Para Blogger
            Mbak Milda mengawali talk show dengan amat ramah, pembawaan Mbak Milda yang cenderung santai namun tetap serius, mampu membuat para peserta terbawa suasana. Apalagi ketika Mbk Milda menjelaskan mengenai trend menonton masa kini. Sebelumnya Mbak Milda sempat mengajak peserta bercanda, “siapa di sini yang suka menonton film Korea?,”. Sontak saja peserta Talk Show yang wanita langsung tertawa mendengar hal ini.
Selanjutnya Mbak Milda menjelaskan mengenai kebiasaan menonton masyarakat Indonesia, yang terbagi menjadi tiga berdasarkan survei Nielsen (Mobile constumer report 2014 yang dilakukan pada 429 responden yang berusia 16-40 tahun); yakni Ibu Rumah Tangga (yang menonton 6 jam lebih dalam satu hari), para pria (yang menonton streaming sekitar 3 jam, jika berada di rumah dapat menonton 1-2 jam sehari), serta para millenial dan pekerja (yang lebih memilih untuk menonton streaming karena dirasa lebih efektif dan efisien). Penjelasan dilanjutkan dengan menjelaskan mengenai kisaran produksi film di Indonesia serta beberapa trend film yang ada di Indonesia.
Adapun poin utama yang disampaikan yakni berkaitan dengan betapa pentingnya memiliki budaya sensor mandiri, khususnya bagi para blogger. Hal ini dikarenakan para blogger merupakan pengguna smartphone yang paling sering berinteraksi dengan dunia maya, selalu update akan info film terbaru, seringkali menjadi buzzer dan promosi film, nobar (nonton bareng), melakukan review film,  serta senantiasa kritis pada film dan tontonan. Selain itu, sebgaai bentuk kesimpulan dalam mengakhiri penjelasannya, Mbak Milda menyatakan bahwa sensor efektif itu dilakukan dari rumah untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat secara luas. Sebelum benar-benar mengakhiri pembicaraannya, Mbak Milda juga memperkenalkan salah satu komunitas Film Lokal Bengkulu yakni Rafflesia Motion kepada para peserta.
  
Media Massa dan Generasi Millenial
               Era media konvergensi kemudian menghadirkan suatu istilah, yakni adanya generasi millenial dalam kancah perkembangan masyarakat. Hal inilah yang kemudian dijabarkan oleh Ibu Noor Saadah, M.Ikom.,  dari Lembaga Sensor Film Indonesia saat acara Talk Show LSF (Lembaga Sensor Film) bersama Blogger Bengkulu. Sebelum menjelaskan mengenai apa, bagaimana dan karakter dari kehadiran generasi millenial, Ibu Noor membuka penjelasannya tentang konsep media. Terdapat tiga konsep media yang dirangkum oleh Ibu Noor, pertama, media merupakan hasil konstruksi (Christ, 2004: 92-96 dalam Saadah, 2018). Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa hal apapun yang terdapat di dalam media massa merupakan hasil konstruksi dari media tersebut terhadap lingkungannya. Contohnya, Ibu Noor menjelaskan mengenai trend kulit putih dan rambut lurus pada wanita di Indonesia, di mana wanita di Indonesia dianggap cantik apabila memiliki kulit yang putih dan berambut lurus. Hal inilah yang dinyatakan sebagai konstruksi media, di mana para konsumen wanita digiring opininya, bahwa cantik adalah ketika memiliki kulit putih dan berambut lurus. Padahal sebenarnya memiliki kulit sawo matang dan rambut keriting itu unik dan eksotis.


pict. dokumen pribadi. Ibu Noor Saadah dari LSF sedang menjelaskan materi Talk Show.
            
            Kedua, representasi media mengonstruksi realitas. Dalam hal ini, sebagai konsumen media, individu haruslah memiliki sikap ‘terbuka’, sehingga mampu memperluas pengetahuannya untuk memahami peristiwa yang ditampilkan media. Maksudnya adalah media merupakan representasi (perwakilan) dari dunia nyata yang telah dikonstruksi. Oleh karenanya, kita sebagai konsumen media harus memiliki sikap cerdas dalam menanggapi segala hal yang disiarkan oleh media massa. Cerdas bermedia inilah yang kemudian dikenal dengan istilah dengan literasi media. Ketiga, pesan media berisi nilai dan ideologi. Dalam hal ini, Ibu Noor menyatakan bahwa karena pesan media berisi nilai dan ideologi maka individu pengkonsumsi media harus bersikap kritis terhadap apapun yang diterimanya melalui media.
            Usai menjelaskan mengenai tiga konsep media, Ibu Noor melanjutkan penjelasannya mengenia kehadiran generasi millenial atau dikenal dnegan generasi Y. Generasi ini yang memiliki andil yang cukup besar pada era saat ini. Orang-orang generasi Y ini merupakan orang-orang yang produktif untuk masa sekarang. Generasi millenial ini dilahirkan pada tahun 1980 hingga 1997, generasi inilah yang amat terpapar dengan era digital atau konvergensi saat ini.
            Setelah menjabarkan secara jelas mengenai apa itu generasi millenial, Ibu Noor Saadah kemudian menjelaskan tentang pentingnya sensor mandiri bagi masyarakat, khususnya pada generasi millenial dalam mengkonsumsi media. Mengapa yang lebih diutamakan adalah para generasi millenial? Hal ini tentunya beralasan, dikarenakan generasi millenial merupakan generasi produktif masa kini yang senantiasa terpapar media, khususnya media digital. Generasi inilah yang mampu berperan aktif untuk mengkampanyekan mengenai sensor mandiri dalam penggunakan produk-produk media pada generasi sebelum dan setelah mereka.
            Sensor mandiri merupakan perilaku secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan. Mengapa sensor mandiri amat penting? Hal ini dikarenakan kehadiran konvergensi media atau era digital saat ini, menjadikan setiap konsumen media mampu mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan media itu sendiri. Masyarakat secara bebas memilih akses informasi yang mereka inginkan, di mana pun dan kapan pun. Terkhusus dalam mengakses informasi melalui tontonan, masyarakat harus mampu secara jelas menyensor hal apa saja yang penting atau tidak penting, sesuai atau tidak sesuai untuk mereka.
.....


Pict.dokumen pribadi. Para Penerima Doorprize dalam acara talk show Bobe bersama LSF

 Budaya sensor mandiri tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri, karena sensor paling efektif berada pada diri kita masing-masing. Penjabaran dua narasumber yang inspiratif mengenai budaya sensor mandiri tentunya sangat bermanfaat bagi para peserta yang hadir saat itu. Adanya kampanye tentang budaya sensor mandiri ini merupakan suatu bentuk kampanye literasi media yang dapat mencerdaskan pengguna media massa.


Pict.Dokumen Pribadi. Berfoto Bersama Kedua Narasumber usai Acara Talkshow Bobe bersama LSF



Tulisan ini diikutsertakan pada kegiatan #NulisSerempak yang diadakan oleh Blogger Bengkulu beserta Lembaga Sensor Film Indonesia. 


             

           






Beard Papa's, My Favorite Sus.

Senin, 03 September 2018

               
Salah satu outlet beard papa's
photo by google
                            Berawal dari menunggu antrian check in yang cukup lama di bandara, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sus beard papa’s yang memang sudah lama ingin dicicipi. Awalnya seringkali melihat orang-orang membawa bungkusan beard papa’s yang dibawa oleh orang-orang di bandara yang dijadikan sebagai oleh-oleh (buah tangan). Karena memang memliki hobi nge-meal ya otomatis saya penasaran dong dengan sus beard papa’s ini, tetapi ada keraguan, karena ditakutkan belum ada label halal yang tertera.
Label Halal MUI ada di beard papa's

                Keragu-raguan untuk mencicipi sus beard papa’s akhirnya sirna, di mana kehadiran label halal tersebut ternyata ada di depan outlet beard papa’s saat saya melewati outlet itu di pertengahan tahun beberapa bulan yang lalu di bandara Halim Perdana Kusuma. Saat itu saya sebenarnya ingin sekali mencicipi beard papa’s dengan varian rasa cheese (vla sus cheese), namun saat itu varian rasa tersebut kosong. Hanya ada varian sus vanila dan cokelat. Pilihan saya pun jatuh pada sus vanila beard papa’s dengan harga Rp 22.000,-/pcs. Ukuran beard papa’s sekitar satu kepalan tangan dengan isian vla sus yang lumer dan lezat. Selain itu, krim vla susnya terasa dingin saat dimasukkan ke mulut, sungguh yummy! Baru kali ini saya merasakan krim vla kue sus yang terasa dingin saat dimakan. Selain itu krimnya tidak terlalu manis dan juga royal (banyak). Sebagai penggemar kue sus otomatis worth it lah ya untuk mencicipi varian sus yang satu ini. Gak bakalan nyesel deh pokoknya! J
               
Keunikan dari beard papa’s
                Outlet-outlet Beard Papa’s tidak terlalu besar, kalau kita juga sering membeli Roti ‘O atau Roti Boy, kira-kira outlet Beard Papa’s tidak beda jauh ukurannya dari kedua outlet tersebut. Namun, untuk icon warna yang digunakan lebih dominan pada warna kuning dan putih dengan logo Kakek Berjanggut Putih dengan topi kupluk berwarna kuning. Berslogan ‘fresh ‘n natural cream puffs’, Beard Papa’s mengklaim tidak menggunakan bahan pengawet dalam setiap sajiannya. Untuk kulit susnya merupakan perpaduan resep choux pastry Perancis dan pie crust yang dipanggang setiap hari agar tersaji dengan segar. Oleh karenanya sus ini memang harus segera dihabiskan dalam satu hari, karena memang tidak menggunakan pengawet.
                Untuk vla susnya sendiri diisi (disemprotkan) di dalam kue susnya saat ada yang membeli, vla sus tersebut berasal dari wadah isian semacam dandang tinggi berukuran sedang yang berbahan stainless steel (semacam ceret pengisi vla sus yang terdapat besi di depannya sebagai corong pengisi vla). Jadi vla sus memang benar-benar fresh, karena baru diisi ke dalam kue sus saat ada yang membeli. Untuk kisaran harga dibanderol dari harga Rp 15.000,- -hingga Rp 39.000,- (harga disesuaikan dengan lokasi outlet, jika di bandara harga lebih mahal dari outlet di luar bandara). 
beard papa's 'fresh and original cream puffs'
                Varian rasa krim vlanya pun bermacam-macam, ada vanila, cokelat, keju, durian, greentea, nangka, kacang, kacang merah, strawberry dan masih banyak lagi. Beragam sekali bukan? Berbeda dengan sus-sus lainnya, yang terkadang hanya menyediakan varian rasa sus vanila dan keju saja.
Menikmati sus beard papa's varian vanila


Sejarah Beard Papa’s
                Berbicara tentang kue sus favorit, tidak ada salahnya toh berbicara tentang sejarahnya juga? Yup, karena sus yang pada awalnya berasal dari Jepang ini, memiliki  pembungkus kemasan yang unik. Desain kemasan cukup sederhana, hanya ada logo dari beard papa’s itu sendiri (kepala kakek berjanggut putih dan berkupluk kuning) dan tulisan produced by Mugihono since 1952.
                Awalnya saya mengira, beard papa’s ini diproduksi oleh orang Jawa, karena nama pencetus awalnya berawalan Mugi, namun ternyata saya salah besar. Mugihono merupakan seorang pengusaha yang berasal dari Jepang. Saat ini kue sus vla ini sudah memiliki 400 outlet di seluruh dunia (data April 2018) yang dioperasikan oleh Muginoho International, Inc yang berpusat di Torrance California.
                Wajar ya kalau misalnya kue sus Mugihono ini kian dikenal dari hari ke hari di hampir seluruh dunia, hal ini dikarenakan memang rasa yang disajikan di setiap susnya amat nikmat dan lezat, serta memiliki keunikan tersendiri saat disajikan. Pokoknya worth it banget deh... Ayook jangan lupa icip-icip ya...
Outlet Beard Papa’s yang ada di Jakarta dan sekitarnya.
Plaza Indonesia EX lantai 1, Jakarta Pusat
Telepon: 021-31900787

Mal Artha Gading lantai dasar, Jakarta Utara
Telepon: 021-45863852

Mall of Indonesia, Jakarta Utara
Telepon: 021-45868174

Mal Kelapa Gading 3 lantai 3, Jakarta Utara

Mal Pondok Indah South Skywalk lantai 2, Jakarta Selatan
Telepon: 021-45868174

Pacific Place, Jakarta Selatan
Telepon: 021-51402738

Central Park Mal lantai LG, Jakarta Barat

Tangerang City Mal lantai GF, Tangerang

Bandara Soekarno Hatta terminal 1A, 1B, 1C, 2D, 2F, 3
Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur.

Wajar ya kalau misalnya kue sus Mugihono ini kian dikenal dari hari ke hari di hampir seluruh dunia, hal ini dikarenakan memang rasa yang disajikan di setiap susnya amat nikmat dan lezat, serta memiliki keunikan tersendiri saat disajikan. Pokoknya worth it banget deh... Ayook jangan lupa icip-icip ya...


Tulisan ini dikembangkan dari sumber 
http://www.beardpapa.com/about.html
https://food.detik.com


               
               


'Fresh Wife', Why Not?'

Senin, 20 Agustus 2018

Photo by google.com
Hai... apa kabar? Semoga kita semua dalam suasana yang diberkahi Allah ya dan tentunya kita termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur. Kali ini, saya ingin sharing tentang kehidupan saya sebagai Fresh Wife a.k.a. kalau istilah saya sih istri yang masih ‘fresh’ gitu (he..he..), karena masih dalam hitungan bulan tentunya.
Nah, btw nih ya, untuk Mbak-Mbak atau Kakak-kakak yang belum menemukan jodohnya saya doakan semoga segera menemukan jodohnya. Semoga mendapatkan jodoh yang sholeh/sholehah dan tentunya bonusnya lagi kalau jodohnya sesuai kriteria ya, aamiin. Untuk yang belum meniatkan menikah, hayuk buruan diniatkan menikah, karena beribadah itu harus diniatkan dan diusahakan, intinya jangan putus berdoa dan selalu berprasangka yang baik pada Allah. Karena Allah itu Maha Pendengar doa-doa kita. Intinya nih ya, kalau syarat-syarat sudah terpenuhi, misal nih, sudah baligh, siap lahir dan bathin, nah tunggu apa lagi, ayoo.. diniatkan menikah. 

Fyi nih ya, waktu itu saya berniat menikah sekitar 4 tahun yang lalu dan baru menemukan jodoh di tahun ini. Tentunya perjalanan begitu berliku. Belum lagi sudah banyak teman-teman seumuran yang menikah, bahkan adik-adik tingkat saat kuliah pun sudah silih berganti mengirim undangan. Belum lagi, dua tahun setelahnya bukan lagi semacam rutinitas mendatangi undangan walimah, melainkan juga kunjungan kepada sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat yang telah melahirkan. Hummm,, antara senang dan sedih sih (he...), tetapi memang itulah yang harus dijalani. Belum lagi yang paling buat sedih adalah ketika sahabat-sahabat di berbagai komunitas sudah pada launching undangan, sementara saya masih saja di urutan teakhir (belum dipinang) dan akhirnya rela menjadi tamu undangan lagi (hu..hu..)

Sebenarnya untuk urusan lamar melamar, memang sudah ada yang hendak melamar sebelum-sebelumnya, namun apa mau dikata, hati belum bertemu jua dengan yang klik. Karena menurut saya kala itu dan hingga saat ini, ketika memutuskan menikah dengan seseorang, maka haruslah berdasarkan rasa cinta dan kagum, bukan karena paksaan atau pun pura-pura suka. 

Dan jawaban atas doa-doa panjang pun terjawab di tahun keempat penantian. Alhamdulillah prosesnya mudah dan tidak terlalu sukar. Seperti istilah ’mestakung’atau ‘semesta mendukung’, semuanya merestui, semuanya dimudahkan.
And finally, I am A Wife now....
But, its not a final, its just a new begin.... Perjuangan the real life baru saja dimulai.
................................................................
Okey, well, sekitar seminggu pascamenikah, saya hijrah ke Jakarta bersama suami. Tepatnya di Jakarta Barat, kawasan Palmerah. Lingkungan tempat kami tinggal berada di sekitaran lingkungan kampus Bina Nusantara. Di mana di lingkungan ini, kampus Binus terbagi menjadi tiga gedung, yakni Binus Anggrek, Binus Syahdan dan Binus Kijang. Ketiga gedung perkuliahan tersebut berjarak sekitar 1 hingga 3 km, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik angkot ataupun gojek. 

Seperti diketahui, kawasan Jakarta Barat adalah kawasan terpadat dibandingkan dengan kawasan Jakarta lainnya, sehinga jangan heran kalau tinggal di sekitaran sini, dari mulai kawasan elit hingga yang tinggal berdesak-desakan di gang-gang sempit pun ada di sini. Dari mulai kehidupan elit hingga kehidupan masyarakat menengah ke bawah pun ada di depan mata.

Seminggu tinggal di sini, saya masih merasa jet lag, namun lama kelamaan saya terbiasa dengan suasana. Okey, fyi nih, semenjak saya hijrah ke Jakarta Barat saya off dari aktivitas sebagai dosen dan kemudian memilih menjadi house wife untuk sementara waktu. Namun, kegiatan perkuliahan yang berkaitan dengan perkuliahan komunikasi masih tetap saya jalankan, di mana saya hingga tahun ini masih terctat sebaai salah satu tutor online di Universitas Terbuka untuk mata kuliah di prodi Ilmu Komunikasi. Perkuliahan online menjadikan saya hanya bisa melakukan konsultasi via online dengan para mahasiswa, tanpa bertemu mereka secara langsung, seperti yang biasanya saya lakukan dahulu.

Pada awalnya menjalani kehidupan sebagai housewife, ada rasa jenuh menimpa, terkadang saya kerap menangis tanpa alasan, bisa jadi karena jenuh, karena saya belum juga terlalu banyak mengenal orang-orang di sekitaran saya. Jujur, teman saya saat itu ya hanyalah suami saja. Sebenarnya sejak awal saya tinggal di sini, suami sudah mendorong saya untuk melamar menjadi dosen kembali, tetapi saya menolaknya, karena saya masih ingin beradaptasi dengan kehidupan Jakarta, ditambah saya dinyatakan positif mengandung tidak lama dari masa pernikahan kami. Alasan inilah yang kemudian menambah kebimbangan saya untuk tidak melamar pekerjaan dulu sementara waktu, karena saya ingin awal kehadiran bayi kami nanti, ibunyalah yang mengasuhnya bukan orang lain.

Terkadang ada rasa rindu pada suasana kampus dan kelas. Apalagi ketika melihat teman-teman angkatan saya mempelihatkan kelas dan mahasiswa mereka di sosial media, wah.. rasa-rasanya saya ingin kembali mengajar. Namun hingga saat ini, raga saya belum tergerak untuk melamar pekerjaan kembali karena ada hal baru lainnya yang akan saya didik nantinya, lebih dari sekedar mendidik mahasiswa.

Walaupun terkadang saya rasanya ingin marah pada segelintir orang yang kurang bijak, yang menyatakan bahwa ‘untuk apa berpendidikan tinggi, tetapi hanya di rumah saja,’ atau ‘jadi perempuan itu harus bekerja, iya kalau suamimu setia terus!’, atau ‘saya bangga bekerja sendiri, walaupun suami saya mapan, karena menurut saya perempuan itu harus mandiri’. Loh, lalu apa salahnya menjadi House Wife? Bukankah House Wife itu juga suatu pekerjaan? Di mana keutamaannya lebih tinggi dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya? Kalau menjawab pernyataan, ‘belum tentu suamimu itu nantinya selalu setia,’ tentunya hal ini menurut saya lebih lucu lagi, mengapa? Karena menurut saya rezeki Allah itu banyak dan luas. Dan berdoalah agar kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja, soal bagaimana nantinya, serahkan saja pada Allah. Jangan sampai alasan kita bekerja, hanya karena takut kehilangan sesuatu yang sudah dititipkan Allah pada kita.

Pilihan seorang wanita, menjadi house wife atau pun wanita karir sekali pun, itu adalah pilihannya masing-masing. Sebagai pribadi yang baik tentunya kita bisa bijak menilai. Tak usahlah menambah beban orang lain dengan penilaian-penilaian negatif kita, atau merasa bangga dengan apa yang telah kita kerjakan. Karena apa yang kita lihat, belum tentu seperti hal yang sebenarnya kita lihat. Jujur saja, saat masih aktif mengajar dahulu, saya memang pernah berceloteh, sepertinya enak menjadi Ibu Rumah Tangga saja, karena bekerja itu capek. Tetapi, saat saya mengalaminya saat ini, saya rasa-rasanya ingin kembali mengajar saja. Namun, qadar Allah, siapa yang bisa memastikan kehidupan yang akan datang, boleh jadi, takdir berkata lain, bisa jadi saya akan kembali bekerja, bisa jadi tidak. Tugas kita saat ini hanyalah, tetaplah berprasangka baik padaNya.

......................................................................................
Sekedar berbagi, bagi para 'Fresh Wife' yang kebetulan akan atau sedang menjalani kehidupan baru sebagai house wife, saya ingin berbagi beberapa hal untuk tetap menjadi Istri sholehah yang tetap strong and happy.

Pertama
Ikhlas. Jika dahulu kegiatan rutinitas adalah pergi ke tempat kerja dan kemudian pulang saat sudah petang, nah saat ini pekerjaan kita adalah mengurus rumah dalam waktu yang tidak terhingga. Namun segalanya harus tetap diniatkan dengan ikhlas, tanamkan di dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan ini bernilai ibadah, sehingga kita akan melakukan pekerjaan yang terbaik, walau hanya di rumah saja.

Kedua
Sangat membantu jika memiliki hobi memasak. Yakinlah, memasak mampu mengeluarkan kita dari kejenuhan-kejenuhan yang kita rasakan. Cobalah beragam resep baru yang sangat mudah ditemui saat ini melalui sarana media online. Tentunya memasak sendiri akan lebih sehat dan higienis. Selain itu, kita juga dapat menghemat pengeluaran dengan rutin memasak setiap hari.

Ketiga
Lakukan hal yang disuka ketika sedang senggang. Walaupun saya hobi memasak, tetapi saya juga memliki hobi kulineran. Nah, jadi jangan heran kalau pernah bertemu dengan saya yang suka makan sendirian di tempat makan. Kebetulan daerah tempat tinggal ada di sekitaran kampus, jadi banyak tempat-tempat kuliner yang bisa dicicipi. Tetapi ingat, hobi kulineran boleh, tetapi jangan sampai buat kantong bolong yah, ingat-ingat anggaran (he...). Selain kulineran, mungkin kita bisa melakukan hal menarik lainnya yang memang menjadi hobi kita, misalnya merawat tanaman, menyulam, menjahit, atau menulis.

Keempat
Ikutlah beberapa komunitas-komunitas yang bernilai positif. Menjadi Ibu Rumah Tangga bukan berarti kita harus melulu di rumah dan menyendiri ya. Tetapi kita juga tetap harus melakukan pengembangan diri dengan ikut dalam berbagai komunitas yang bernilai positif. Tentunya jenu dong ya kalau misalnya di rumah terus berhari-hari, berbulan-bulan. Nah, alangkah baiknya kita berhenti sejenak dari rutinitas di rumah dan bergabung dengan komunitas-komunitas positif. Selain memperluas pergaulan, kita juga mampu berbagi pengalaman dengan orang lain di komunitas tersebut.

Kelima
Sesekali lakukan relaksasi dengan berolahrga atau pergi ke salon. Jangan mentang-mentang di rumah saja, penampilan kita menjadi tidak diperhatikan lagi ya, kita harus tetap menjaga kebugaran dan juga kecantikan tentunya. Tidak perlu mahal loh, berolahraga dan rajin merawat diri secara di rumah juga dapat menjaga agar tubuh tetap bugar dan wajah tetap berseri-seri. Apalagi kita memiliki pikiran yang senantiasa positif, otomatis wajah akan kian berseri. Selain itu, kita juga ada baiknya sesekali pergi ke salon, memanjakan diri. Nah, caranya adalah, menganggarkan sedikit dari uang belanja yang diberikan suami, kalau belum cukup sebulan sekali, ya paling tidak dua bulan sekali kita udah bisa pergi ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan. Oleh karenanya, pintar-pintarlah mengatur anggaran pengeluaran dalam keluarga.

Keenam.
Tetaplah bersyukur apapun kondisi kita. Nah, ini yang paling terpenting, karena ketika kita bersyukur maka segalanya akan terasa ringan. Ketika jenuh datang melanda apalagi sampai meneteskan air mata, cepat-cepatlah beristighfar. Karena kondisi ketka kita merasa tertekan atau merasa kurang nyaman, akan berakibat pada seluruh hal yang seharusnya telah rampung dikerjakan akan menjadi terbengkalai. Oleh karenanya, keep fighting for every condition ya Mom... J

Nah, itulah keenam tips dari saya, mungkin belum waktunya saya membagi tips ya, karena bisa dibilang saya ini mash sangat minim pengalaman dalam berumah tangga. Namun, ada kalanya saya hanya ingin berbagi pesan-pesan positif kepada para rekan sekalian, yang akan menjadi atau sedang menjadi ‘fresh wife’ seperti saya sekarang ini. Selain itu, juga sebagai reminder pada diri saya, yang terkadang belum pandai bersyukur juga hingga saat ini. Pada intinya, bersikaplah bijak pada setiap kondisi. Jangan terlalu banyak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Karena apa yang kau lihat belum tentu benar-benar hal yang terlihat. Tetap bersemangat dan berbagi hal yang positif serta lakukan yang terbaik. So, menjadi ‘fresh wife’, why not? 




Kisah Tiada Akhir, Blogger Bengkulu (Bobe)

Kamis, 31 Mei 2018


Bobe. Ketika pertama kali meihat kata ini, aku terkenang postingan dua tahun lalu di timeline facebookku di mana kala itu ada pengumuman penerimaan anggota baru blogger Bengkulu (Bobe) yang akan dilaksanakan di Kota Bengkulu. Saat itu, tepat hampir satu bulan aku pulang kembali ke Bengkulu setelah merantau menempuh pendidikan selama 2,5 tahun di Kota Gudeg. Wah, tentu saja aku antusias melihat pengumuman ini, karena jujur saja aku rindu berkegiatan di komunitas. Hal ini dikarenakan, semenjak aku kembali ke Bengkulu, kegiatanku sehari-hari hanyalah mengajar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Kota Bengkulu. 

Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung menghubungi narahubung yang tertera di poster tersebut. Baiklah, setelah resmi mendaftar, aku tinggal menunggu waktu pertemuan itu, yakni hari Minggu tanggal 25 September 2016. Tentunya aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan orang-orang yang berada di komunitas tersebut. Karena menurutku, orang-orang yang memiliki hobi menulis itu adalah orang-orang hebat, orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Terlebih ketika hal yang ditulis adalah hal yang bermanfaat  bagi orang banyak.
...............
Hari yang dinanti pun tiba. Hari itu cuaca mendung, gerimis, kurang bersahabat memang. Sementara hari itu aku harus menggunakan sepeda motor untuk dapat sampai ke tempat pertemuan Blogger Bengkulu yang beralamatkan di toko Adiguna, Kampung Bali. Cukup jauh memang perjalanan yang harus aku tempuh, bayangkan saja, jarak antara Timur Indah hingga Kampung Bali (tempat lokasi toko Adiguna) seberapa jauhnya, mana harus ditempuh dalam kondisi hujan gerimis pula. Tetapi, itu bukan masalah, walau harus melawan kondisi jalanan licin, namun alhamdulillah, aku bisa sampai tempat tujuan dengan selamat.
Untungnya, pada saat aku datang, acara belum lama dimulai. Saat itu, Mbk Milda (Selaku ketua Bobe) baru saja memberikan sambutan. Mbk Milda menjelaskan bahwa menjadi seorang blogger itu adalah kegiatan yang mengasyikkan. Apalagi saat itu, kami semua diperkenalkan dengan salah satu blogger yang sudah cukup senior, di mana perjalanan menulisnya sangat menginspirasi kami semua.
Acara dilanjutkan dengan mengenalkan bagaimana membuat blog, membuat postingan tulisan di blog yang baik dan masih banyak lagi. Kali itu, kami langsung diperintahkan untuk membuat postingan tulisan tentang kegiatan yang berlangsung hari itu, dan tentunya  tulisan tersebut harus selesai pada saat itu juga. Waah, alhasil, tulisanku berisi semacam laporan kegiatan dan sedikit curhatan tentang diriku yang agak merasa bosan setelah kembali lagi ke Bengkulu karena kekurangan kegiatan, hehe.
Dan walhasil, hari itu adalah hari pertama aku resmi menjadi anggota Bobe (Blogger Bengkulu). Hmmm, walau jujur saja, setelah itu aku kurang aktif berkumpul kembali dalam pertemuan-pertemuan Bobe dan cukup vakum menulis. Hal ini dikarenakan bisa jadi karena aku kurang menyeriusi kegiatan blogger dan sudah mulai banyak jam mengajar yang jujur saja cukup menyita waktu. Ya.. sedikit cerita ya, di semester dua dalam periode mengajarku, saat itu aku dipercaya mengampu 10 mata kuliah. Yang di mana pengalaman paling amazing adalah saat ditugaskan di Lebong, yang jaraknya cukup jauh dari Kota Bengkulu. Saat mengajar di Lebong, aku pernah jam 9.30 malam masih di travel dalam perjalanan pulang Lebong-Bengkulu, sementara keesokan harinya aku harus mengajar di salah satu kelasku pukul 08.00! (eheem banget deh pokoknya!).
Memang sih, kalau kata Mbk Asma Nadia, salah satu penulis senior, bahwa urusan menulis itu no excuse, atau dalam artian tidak ada alasan loh untuk nggak nulis. Tapi ya namanya aku, tetap aja gitu-gitu aja, masih sering terbawa-bawa moody, nulis gak ya? Nulis gak ya? (mohon jangan ditiru ya!). Seharusnya nih ya, walau jadwal mengajar padat, sudah seharusnya aku harus meluangkan waktuku untuk tetap memposting tulisan-tulisanku di blog.
..................................
Tahun pun berganti, aku perhatikan Bobe sudah semakin maju, anggotanya semakin banyak. Aku jarang bergabung ke acara kopdar (pelatihan) Bobe bukan karena tidak mau, melainkan acara Bobe selalu saja bertepatan dengan waktu aku mengajar di UT (ya kalau tidak Sabtu, ya Minggu). Aku hanya bisa mengintip keseruan acara Bobe melalui akun instagran atau pun postingan-postingan kegiatan Bobe di facebook.
Walaupun jarang kopdar dengan anggota Bobe lainnya, aku sering loh menceritakan tentang Bobe dan asyiknya meulis lewat blog kepada mahasiswa-mahasiswaku. Mereka cukup antusias mendengarkan dan sering bertanya, “Bu, bagaimana agar bisa ngeblog juga?”. Aku pun menjawab sejelas mungkin pertanyaan mereka. Intinya aku katakan, “daripada nyetatus terus di timeline, lebih baik nulis yang bermanfaat di blog. Selain bermanfaat siapa tahu bisa jadi pendapatan.”
Nah, atas dasar banyaknya pertanyaan mahasiswa inilah, aku pun berinisiatif ingin mengadakan semacam kuliah umum tentang blogger. Intinya, aku ingin mengenalkan aktivitas blogger kepada para mahasiswa. Agar mereka bisa kritis secara baik, tidak asal-asalan dan lebih beretika. Kebetulan, saat itu aku dipercaya menjadi salah satu pembina mahasiswa Hima di salah satu Universitas di tempatku mengajar, aku pun memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini kepada Ketua Prodi. Singkat cerita, Kaprodi setuju dengan ideku. Hal yang sempat diragukan Kaprodi adalah, apakah event ini akan benar-benar terlaksana? Mengingat waktu itu adalah H-14 acara pernikahanku. Aku memberanikan diri untuk berpositif thinking saja, karena apapun itu, jika niatnya baik, insyaAllah akan baik juga.
Salah satu souvenir
untuk pemateri Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future

Berpose bersama Panitia Kuliah Umum
Smart Blogger for Better Future
Dan alhamdulillah, walaupun persiapan acara kurang dari satu bulan dan proposal baru disetujui H-3, namun sesuai dengan niatku acara itu berlangsung sukses dan meriah, dihadiri lebih dari 150 peserta dari kalangan mahasiswa yang ada di berbagai universitas di Kota Bengkulu. Aku selaku ketua panitia saat itu cukup bersyukur, karena di akhir masa-masaku menjadi dosen di Universitas tersebut (karena usai menikah aku resign dan mengikuti suami hijrah ke luar Bengkulu), aku bisa berbagi dengan yang lain tentang apa sebenarnya blogger itu. 
Ramainya peserta Kuliah Umum Bersama Bobe
Smart Blogger For Better Future

Tentunya, saat itu aku mengajak para pengurus Bobe untuk menjadi pengisi acara di event dengan tema, ‘Smart Blogger for Better Future’. Di mana pemateri saat itu adalah para Blogger-blogger kece dari Bobe, yakni Mbk Milda, Mbk Ria Fasha dan Kak Pieter Julius. Para pengisi acara begitu semangat memberikan motivasi kepada para mahasiswa, agar nantinya dapat menjadi seorang blogger yang aktif dan bermanfaat.


Bersama para admin Bobe di acara Kuliah Umum Smart Blogger for Better Future
di kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu

http://www.bloggerbengkulu.com/

Demikianlah sedikit ceritaku selama menjadi blogger di Kota Bengkulu. Sebenarnya masih banyak kisah menarik dan seru yang ingin aku ceritakan, tetapi kali ini cukup sekian dulu ya. Intinya kalau bercerita tentang Bobe, tentu tidak akan ada habisnya. Akhir kata, aku ingin berpesan, semoga kita kian semangat menebar kebaikan melalui tulisan-tulisan yang kita bagikan. Salam.